lklan-728x90
Menu

Wisata Embung Di Puncak Tercantik Gunungkidul Yang Membuat Kagum

Tempat wisata di Gunungkidul Yogyakarta memang memiliki keunikan dan daya pikat tersendiri bagi para pengunjung. Ini karena Gunungkidul memiliki beberapa landmark dan juga destinasi yang sangat indah. Selain keindahan pantai Gunungkidul, di sana juga ada beberapa air terjun, goa dan juga keindahan alam yang sangat menarik seperti embung yang berada di puncak Gunungkidul. Gunungkidul sendiri merupakan salah satu tempat wisata di Jogja paling menarik dan populer. Siapa sangka, Gunungkidul yang identik dengan bukit kapur yang tandus menyimpan spot wisata yang menarik perhatian wisatawan. Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan wisata pantai yang mempesona. Gunung Kidul di Yogyakarta seakan menjadi surga bagi para pecinta pantai dan wisata lainnya. Meskipun Kabupaten Gunungkidul di dominasi oleh perbukitan dan pegunungan kapur yang identik dengan gersang di musim kemarau, kabupaten ini mempunyai ciri khas yang unik, baik dari sejarah, budaya, pariwisata dan kuliner.

Wisata Embung Di Puncak Tercantik Gunungkidul Yang Membuat Kagum

Selain wisata pantai, di Kabupaten Gunungkidul juga terdapat obyek wisata populer lainnya seperti wisata goa (luweng), wisata air terjun, wisata budaya, situs-situs pra sejarah, candi, wisata embung serta masih banyak yang lainnya. Gunungkidul memang banyak sekali tempat pariwisata khususnya wisata air. Gunungkidul sangat terkenal dengan banyaknya wisata pantai. Kabupaten Gunungkidul berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sidoharjo di utara, Kabupaten Wonogiri di Timur, Samudra Hindia di selatan, serta kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman di barat. Kabupaten Gunungkidul memiliki 18 kecamatan dan 144 desa. Sebagian besar wilayah kabupaten gunungkidul ini merupakan perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari Pegunungan Sewu. Gunungkidul dikenal sebagai daerah tandus dan sering sekali mengalami kekeringan pada saat musim kemarau. Tapi tidak semua daerah di Gunungkidul mengalami kekeringan di musim kemarau, hanya daerah daerah tertentu saja yang mengalami kekurangan air di musim kemarau. Luas kabupaten Gunungkidul adalah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota Wonosari terletak di sebelah tenggara Daerah Istimewa Yogyakarta kurang lebih 39 km.

Embung Sriten Gunungkidul

Embung merupakan bangunan yang berfungsi menampung kelebihan air yang terjadi  pada musim hujan untuk persediaan suatu desa di musim kering. Selama musim kering air akan dimanfaatkan oleh desa untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Di musim hujan embung tidak beroperasi karena air di luar embung tersedia cukup banyak untuk memenuhi kebuthan  penduduk. Oleh karena itu pada setiap akhir musim hujan sangat diharapkan kolam embung dapat terisi penuh air sesuai rencana. Tinggi jagaan adalah perbedaan antara elevasi muka air waduk pada waktu banjir rencana dan elevasi puncak bendung.

Terletak di puncak Pegunungan Batur Agung, Embung Batara Sriten menjadi telaga tertinggi di Yogyakarta. Dari tepian telaga kamu bisa menyaksikan awan gemawan yang berkejaran, senja yang mempesona, serta lanskap perbukitan dan lembah yang terhampar luas hingga batas cakrawala. Seringkali rutinitas hidup membawamu masuk ke dalam titik jenuh. Penat dan bosan lantas meraja, membuatmu malas melakukan apa pun. Salah satu cara ampuh untuk mengatasi kejenuhan hidup tentu saja dengan refreshing dan traveling. Namun kadang saat sudah berada di obyek wisata tertentu kita bukannya refresh melainkan semakin suntuk, sebab destinasi tersebut sudah terlalu penuh dengan orang-orang. Lantas apa solusinya? Tentu saja mengunjungi tempat-tempat eksotis yang belum banyak dipublikasikan. Embung Batara Sriten merupakan salah satu pilihan jitu untuk melarikan diri dari rutinitas.

Embung Sriten Gunungkidul

Lokasi Embung Sriten

Embung Sriten terletak di Padukuhan Sriten Desa Pilangrejo Kecamatan Nglipar Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Embung Sriten diproyeksikan sebagai agrowisata kebun buah diataranya manggis dan kelengkeng di perbukitan Baturagung utara yaitu gunung yang merupakan puncak tertinggi di Gunungkidul atau puncak tugu magir dengan ketinggian sekitar  896 mdpl. Menikmati pesona embung di atas awan dan pemandangan yang luar biasa indah dengan view 360° kawasan persawahan, perkampungan, perbukitan, dan beberapa wilayah di bawahnya seperti Klaten, Rawa Jombor, Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Sleman, Gunungkidul, Yogyakarta dsb. Anda bisa berpindah dari bukit satu ke bukit yang lain dengan berjalan kaki karena beberapa diantaranya berdekatan dan berhubungan. Kawasan pegunungan Baturagung Utara tak jauh berbeda dengan kawasan kabupaten Gunungkidul lainnya, berupa pegunungan karst tandus dan sering kali dilanda kekeringan ketika kemarau tiba. Pembangunan retention basin yang dikenal dengan nama Embung Batara Sriten pun dianggap sebagai solusi untuk mencegah kelangkaan air sekaligus mengembangkan kawasan agrowisata buah di sekitarnya, dengan memanfaatkan air hujan yang ditampung di musim penghujan.

Diresmikan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada bulan September 2014 lalu, Embung Batara Sriten menawarkan pesona keindahan yang mampu meluruhkan semua kepenatan dan kebosanan. Terletak pada ketinggian 859 mdpl atau di puncak Pegunungan Baturagung Utara, Embung Sriten menjadi telaga buatan tertinggi di Gunungkidul, bahkan kabarnya juga menjadi embung tertinggi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seperti halnya Embung Nglanggeran, selain menjadi destinasi wisata baru yang bertujuan untuk menarik kunjungan wisatawan ke Gunungkidul, Embung Batara Sriten juga memiliki fungsi utama sebagai sarana penampungan air untuk mengairi agrowisata manggis dan kelengkeng yang berada di sekitarannya. Selain menjadi destinasi wisata untuk menikmati panorama matahari terbenam di sore hari, Embung Batara Sriten juga difungsikan sebagai lokasi olahraga dirgantara atau aerosport seperti paralayang, paramotor, dan gantole. Beberapa klub olahraga paralayang yang berbasis di Jogja pernah menjajal take off dari Puncak Mangir di kawasan Embung Sriten ini.

Menikmati indahnya panorama Embung Batara Sriten bisa dilakukan dalam berbagai cara. Seperti duduk-duduk di gazebo-gazebo atau pendopo di sekitar embung sambil merasakan hembusan angin yang tetap dingin, meskipun matahari sedang bersinar penuh semangat. Bisa juga sambil menikmati segarnya segelas es teh atau nikmatnya secangkir kopi tubruk di warung-warung kaki lima yang tak jauh dari embung. Mencoba teduhnya naungan pohon ikonik di Embung Batara Sriten, dalam ayunan hammock. dataran yang lebih tinggi di sisi timur juga bisa anda nikmati keindahannya. Puncak Tugu Magir, begitulah puncak di sisi timur ini disebut. Puncak tertinggi di Pegunungan Baturagung Utara sekaligus puncak tertinggi di Kabupaten Gunungkidul. Di sinilah tempat para penjelajah dirgantara mencoba mengembangkan parasut paralayang dari ketinggian 859 Mdpl. Di tempat ini pula terdapat makam tiban yang dipercaya penduduk setempat sebagai petilasan Syeh Wali Jati, seorang kerabat Sultan pada masanya.Beberapa klub olahraga paralayang yang berbasis di Jogja pernah menjajal take off dari Puncak Mangir di kawasan Embung Sriten ini.

Puncak Tugu Magir menyuguhkan pemandangan 360 derajat wilayah-wilayah di sekitarnya yang berlokasi lebih rendah. Sejauh mata memandang dapat terlihat landscape Kota Klaten dengan Rawa Jombor, Kota Jogja dengan Merapi nan gagah, deretan pegunungan Gunungkidul hingga berlanjut ke wilayah Wonogiri yang tertutup kabut tipis. Dari puncak ini pula kita bisa menyaksikan cahaya pertama matahari mengawali hari, juga saat-saat ia kembali pulang ke peraduan. Tak harus naik ke gunung tinggi seperti Gunung Merapi. Cukup berdiri di Puncak Mangir atau di tepi telaga, maka kamu bisa merasakan sensasi menatap senja dari atas gunung. Lokasi telaga yang berada pada ketinggian membuatmu dapat menyaksikan fragmen sunset secara lengkap tanpa terhalang apapun, mulai dari mentari yang lindap, perubahan warna mega, hingga langit yang menjadi gelap.

Rute Embung Sriten Dari Yogyakarta

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Pertigaan Sambipitu (belok kiri, arah Nglipar, ikuti sesuai rambu penunjuk jalan) – Pertigaan Besar (phon beringin sebelum Pasar Nglipar) belok kiri – Jalan Nglipar Ngawen – Kedungpoh – Pertigaan setelah Kantor Kepala Desa Pilangrejo (ke kiri, lihat papan petunjuk) – masuk jalan cor berbatu dan menanjak (ikuti papan petunjuk) – Embung Batara Sriten. Selain melalui Jalur Patuk, kamu juga bisa melewati Jalan Solo menuju arah Klaten kemudian naik ke kawasan Gunungkidul. Bagi kamu pengguna smartphone, silahkan cari di berbagai aplikasi GPS Tracking seperti google maps, waze, dan lain-lain. Embung Batara Sriten sudah terindeks di berbagai apliaksi GPS tersebut.

Tips Mengunjungi Embung Batara Sriten

  • Waktu terbaik untuk berkunjung ke Embung Batara Sriten adalah di pagi hari saat sunrise maupun sore hari menjelang sunset
  • Sebelum berangkat, periksalah secara menyeluruh kondiri kendaraanmu. Jalan menuju Embung Sriten sangatlah terjal sehingga kendaraan harus dalam kondisi prima.
  • Sangat tidak disarankan menggunakan motor matic.
  • Kendaraan terbaik untuk berwisata ke Embung Sriten adalah mobil offroad atau motor trail.
  • Jika hujan turun janganlah memaksa untuk terus melanjutkan perjalanan hingga puncak. Lumpur pekat akan menutupi jalan sehingga kemungkinan terpeleset cukup besar.
  • Jika kamu hanya datang sendirian, disarankan untuk meninggalkan embung sebelum mentari terbenam sebab selepas magrib jalanan akan sangat sepi.

Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Embung Sriten pastikan kendaraan Anda dalam kondisi prima. Sangat disarankan untuk tidak menggunakan motor matic jika ingin berkunjung ke tempat ini. Hal ini dikarenakan jalan menuju Embung Sriten dipenuhi tanjakan dan tikungan tajam serta sebagian berupa jalan makadam.

Embung Nglanggeran Gunungkidul

Embung Nglanggeran Gunungkidul

Gunungkidul, daerah ini secara umum dikenal sebagai tempat berhawa panas dengan barisan pegunungan karst  kering yang membentang hingga menyambung ke arah Pacitan di Jawa Timur. Di Gunungkidul pula barisan pantai eksotik membentuk sabuk keindahan yang membuat Yogyakarta terasa kontras di sisi utara dan selatannya. Namun keliru jika menganggap Gunungkidul hanya cantik karena sabuk pantainya saja. Gunungkidul juga mempunyai embung yang sangat menarik yaitu Embung Nglanggeran.

Dibuka dan diresmikan pada 19 Februari 2013 oleh Sultan Hamengku Buwono X, tempat ini sebenarnya bernama resmi “Kebun Buah Nglanggeran” karena diproyeksikan sebagai kebun buah. Durian, kelengkeng, rambutan adalah sebagian jenis buah yang rencananya akan dikembangkan di area ini. Namun keberadaan kolam air raksasa di puncaknya membuat nama Embung Nglanggeran lebih dikenal. Petunjuk arah menuju tempat ini pun menggunakan nama Embung Nglanggeran dibanding nama sebenarnya. Menuju lokasi embung dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan meski jalan ke tempat ini masih berupa bebatuan dan tanah yang ditata membentuk setapak. Lebar jalannya pun tak cukup untuk 2 mobil melaju secara bersamaan. Oleh karena itu berjalan kaki dari Gunung Api Purba bisa menjadi pilihan asyik untuk mencapai lokasi ini.

Keindahan Embung Nglanggeran

Dibuat untuk tujuan konservasi air, ternyata Embung Nglanggeran ini juga sangat indah secara alam dan bisa dijadikan sebagai salahsatu destinasi wisata alternatif bagi para wisatawan yang berkunjung ke Jogja. Berlokasi di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta Embung Nglanggeran ini dibuat dengan cara membelah sebuah gunung api purba Nglanggeran. Gunung api purba Nglanggeran sendiri juga merupakan tempat yang sangat cocok dikunjungi oleh para pecinta kegiatan wisata alam dan adventure. Kedua tempat ini sangat berdekatan Embungnya sendiri hanya berada 2 kilometer ke arah tenggara gunung api purba tersebut. Fungsi utama dari Embung Nglanggeran itu sendiri merupakan tempat penampungan dan konservasi air dari berbagai sumber baik hujan, gunung dan lain sebagainya.

Embung Nglanggeran akan menyajikan “dua lukisan” yang sangat kontras. Di satu sisi ini memiliki “tembok” berupa barisan bongkah batu berukuran raksasa yang menjadi bagian dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Sementara di sisi lainnya tempat ini seperti berada tepat di bawah atap langit. Awan-awan yang menggantung di atasnya membuat pemandangan di tempat ini menjadi tak biasa untuk sebuah puncak bukit yang kering. Hamparan tanah berbatu dengan pepohonan hijau yang mulai tumbuh seakan mengajak mata membaca sebuah harapan akan kehidupan baru di beberapa sudut Gunung Kidul yang dahulu kering. Bagaikan cawan air raksasa, embung yang berukuran sekitar 60×60 meter ini bagaikan keajaiban kecil dari sebuah bukit berbatu yang dulu dianggap mati menjadi sebuah tempat yang menyenangkan hati. Cantik dan eksotik, itulah Embung Nglanggeran.

Proses Pembuatan Embung Nglanggeran

Proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara membelah gunung api purba memang menjadi salh menakjubkan dari sekian banyak pesona yang ditawarkan oleh Embung Nglanggeran. Rencana awal pengelola sebenarnya justru lebih kepada proyek konservasi dan pengairan sebab area sekitarnya akan dijadikan perkebunan buah dari mulai klengkeng, durian dan masih banyak lagi lainnya. Namun ternyata justru perhatian masyarakat lebih besar kepada pesona yang ditawarkan oleh embungnya itu sendiri, itulah kenapa justru sekarang nama Embung Nglanggeran lebih dikenal dibanding nama asli dan resminya yaitu Kebun Buah Nglanggeran.

Jika dulu pengunjung hanya datang dengan tujuan untuk mengunjungi gunung api purbanya saja maka sekarang para wisatawan justru datang ke Gunungkidul untuk mengunjungi Embung Nglanggeran ini. pemandangannya yang indah yakni berlatar belakang tebing gunung api purba, pemandangan alam persawahan hijau yang terhampar luas dibalut oleh indahnya awan-awan putih yang menggantung di langit. Banyak juga yang datang ke Embung Nglanggeran ini untuk tujuan fotografi misalnya foto pre-wedding dan keperluan foto lainnya. Embung Nglanggeran ini memiliki luas berukuran 60×60 meter berbentuk cawan dengan pemandangan yang sangat eksotis. Kini wilayah ini menjadi semakin membaik dan hijau dibanding dahulu yang kering dan mati.

Kamu bisa mendatangi Embung Nglanggeran ini kapanpun dengan hanya membayar retribusi 3000 rupiah, namun ada beberapa waktu yang tepat yangmenjadi favorit dan kamu bisa mendapatkan pemandangan yang sangat optimal. Yang paling tepat untuk mengunjungi tempat ini adalah ketika matahari terbenam di sore hari, sebab kamu bisa menyaksikan matahari yang terbenam tanpa terhalang oleh pepohonan apapun. Embung Nlanggeran ini terletak di ketinggian dan perlu meniti hingga 500 meter di atas permukaan laut. Kamu juga bisa mengunjungi pada saat pagi hari, meskipun kamu tidak akan menemukan indahnya cahaya matahari terbit tapi suasana pagi yang dingin dan kabut serta warna danau yang indah akan tetap membuatmu terkagum.

 

Artikel terkait Wisata Embung Di Puncak Tercantik Gunungkidul Yang Membuat Kagum