lklan-728x90
Menu

Wisata Budaya Bersejarah Tinggi Di Gunungkidul Yang Wajib Anda Kunjungi

Bentuk wilayah atau fisografi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pola kehidupan sosial budaya pada masyarakat. Unsur sosial budaya merupakan salah satu instrumen penting dalam pembangunan, hal ini terkait perencanaan, sasaran, dan capaian target kinerja pembangunan. Karakteristik sosial budaya masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat tradisional yang masih memegang teguh budaya luhur warisan nenek moyang. Sehingga dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah berupaya untuk mengadopsi karakteristik sosial budaya agar dapat berimprovisasi dengan kultur masyarakat yang ada. Masyarakat Kabupaten Gunungkidul secara umum menggunakan bahasa lokal (bahasa jawa) dalam berkomunikasi, sementara bahasa nasional (bahasa Indonesia) secara resmi dipakai dalam lingkungan formal (kantor, pendidikan, fasilitas umum, dan lain-lain).

wisata-budaya-bersejarah-tinggi-di-gunungkidul-yang-wajib-anda-kunjungi

Organisasi kesenian sebagai budaya yang terus dipupuk dan dilestarikan oleh masyarakat berjumlah 1.878 organisasi, dengan tokoh pemangku adat berjumlah 144 orang. Sementara itu desa budaya yang dikembangkan oleh pemerintah untuk menunjang kesejahteraan masyarakat sebanyak 10 desa budaya, cagar budaya yang dimiliki sebanyak 5 buah serta benda cagar budaya sejumlah 692 buah yang tersebar di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Kabupaten Gunungkidul mempunyai beberapa tempat wisata yang sarat akan nilai historis dan budaya. Seperti misalnya Situs Pertapaan Kembang Lampir yang merupakan saksi sejarah tempat Ki Ageng Pemanahan bertapa dan mendapat Wahyu Keraton Mataram, yaitu mendapat karunia bahwa  keturunan Beliau menjadi Raja-Raja di Mataram ( Jogjakarta, Solo dan sekitarnya ).

Sejarah Kabupaten Gunungkidul

Kawasan Gunungkidul diperkirakan telah dihuni oleh manusia (Homo sapiens) sejak 700 ribu tahun lalu. Banyak ditemukan petunjuk keberadaan manusia yang ditemukan di gua-gua & ceruk-ceruk di perbukitan karst Gunungkidul, terutama di Kecamatan Ponjong. Kecenderungan manusia menempati Gunungkidul saat itu disebabkan sebagian besar dataran rendah di Yogyakarta masih digenangi air. Kedatangan manusia pertama di Gunungkidul terjadi pada akhir periode Pleistosen. Saat itu, manusia Ras Australoid bermigrasi dari Pegunungan Sewu di Pacitan, Jawa Timur melewati lembah-lembah karst Wonogiri, Jawa Tengah hingga akhirnya mencapai pesisir pantai selatan Gunungkidul melalui jalur Bengawan Solo purba.

Dari sekitar 460 gua karst di Gunungkidul, hampir setengahnya menjadi hunian manusia purba. Dari 72 gua horizontal di ujung utara Gunung Sewu, tepatnya di Kecamatan Ponjong yang terapit Ledok Wonosari di barat dan Ledok Baturetno di timur, 14 goa di antaranya merupakan bekas hunian manusia purba, dan dua di antaranya sudah diekskavasi yaitu Song Bentar dan Song Blendrong. Di ceruk Song Bentar yang pernah menjadi hunian Homo sapiens ditemukan delapan individu yang terdiri dari: 5 dewasa, 2 anak-anak, dan 1 bayi juga ditemukan alat-alat batu seperti batu giling, beliung persegi, dan mata panah. Sementara di Song Blendrong ditemukan banyak tulang, peralatan batu, tanduk, dan serut kerang yang berserakan di lantai ceruk.

Wisata Bersejarah Di Gunungkidul

Ungkapan yang bijak mengatakan bahwa menyelami masa lampau mutlak diperlukan untuk mengenal masa kini, sedangkan memahami masa kini dapat memberi kemampuan masa depan yang lebih harmonis. Di Kabupaten Gunungkidul banyak ditemukan peninggalan budaya prasejarah. Hasil budaya masa prasejarah adalah hasil budaya yang dibuat dan dipakai oleh manusia dalam dimensi yang cukup panjang yaitu sejak manusia pertama hingga abad V-VI Masehi.

Selanjutnya peninggalan budaya dari masa klasik seperti candi, masa Islam seperti pesanggrahan, makam, wayang dan yang mewakili masa kolonial berupa bangunan dengan arsitektur lokal yang dipengaruhi oleh karakter arsitektur dari luar, rumah tradisional serta monumen bersejarah. Potensi budaya suatu daerah merupakan modal dasar yang dapat dimanfaatkan bagi kemakmuran masyarakat. Beberapa tempat wisata budaya dan sejarah di Kabupaten Gunungkidul adalah: Pertapaan Kembang Lampir, Pesanggrahan Gambirowati, Situs Megalitik Sokoliman, Situs Megalitik Gunungbang, dan Petilasan Gunung Gambar.

pertapaan-kembang-lampir

Pertapaan Kembang Lampir

Pertapaan Kembang Lampir merupakan salah satu wisata budaya yang ada di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul. Wisata budaya petilasan Ki Ageng Pemanahan yang satu ini dibangun pada periode islam. Kembang Lampir didirikan di atas bukit dan dikelilingi pagar. Para wisatawan yang hendak menuju Kembang Lampir harus melewati anak tangga permanen yang telah disediakan. Kembang Lampir dulu digunakan sebagai tempat bertapa Ki Ageng Pemanahan untuk memperoleh wahyu Kraton, dengan wahyu tersebut beliau berharap dapat menurunkan raja-raja di Jawa. Dalam pertapaan itu akhirnya beliau mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga bahwa wahyu keraton berada di dusun Giring, desa Sodo, kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Pertapaan Kembang Lampir dibuka untuk umum setiap hari Senin dan Kamis.

Diceritakan ditempat itu bahwa ki ageng giring dan ki Ageng pemanahan berebut wahyu keraton dan diwujudkan dalam simbol bentuk dengan muda. Dalam perebutan tersebut akhirnya dapat dimenangkan oleh ki Ageng Pemanahan. Untuk dapat sampai di tempat tersebut, pengunjung harus melewati anak tangga permanen. Untuk denah kembang lampir terlihat berbentuk angka Sembilan, itu sebagai tanda bahwa kompleks tersebut dibangun oleh sultan hamengku buwana 9. Kompleks kembang lampir sebenarnya bernama kembang semampir yang dibangun pada tahun 1971. Saat ini kompleks kembang lampir merupakan sultan ground dan semua pengelolaannya berada di keraton jogja. Bangunan yang ada di sana antara lain: Bangunan induk sebagai tempat penyimpanan pusaka Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga serta dua buah Bangsal. Prabayeksa di kanan dan di kiri. Sebagai penghormatan kepada para pepundhen Mataram di kompleks itu juga dibangun beberapa patung antara lain Panembahan Senapati dan Ki Ageng Pemanahan, serta Ki Juru Mertani.

Situs sejarah Mataram ini sebenarnya sangat menarik untuk dikunjungi para peneliti, sejarawan, pelajar, dan wisatawan umum. Namun untuk mengunjungi ada beberapa syarat yang kadang sulit dipenuhi seperti harus membawa kembang telon ‘tiga jenis’ minyak wangi, dan kemenyan. Selain itu ada juga aturan pengunjung dilarang menggunakan baju berwarna ungu terong dan hijau lumut. Hari untuk berkunjung pun ditentukan dari selasa kliwon, jumat kliwon dan selasa legi. Untuk kegiatan di kembang lampir biasanya diadakan pada malam 1 suro, biasanya kegiatan tersebut meliputi wayangan dan ngisis (nyuci) pusaka. Bahkan sultan sendiri pun ikut datang ke kembang lampir untuk berdoa sejenak.

Selain bangunan bersejarah, di tempat tersebut juga terdapat beberapa patung, diantaranya yaitu Panembahan Senapati dan Ki Ageng Pemanahan, serta Ki Juru Mertani. Wisata budaya Kembang Lampir dibuka untuk umum setiap hari Senin dan Kamis. Dengan berkunjung ke Kembang Lampir ini wisatawan dapat memetik nilai luhur, budaya, dan nilai sejarah yang tinggi. Tidak hanya dengan beragam wisata budaya, wilayah Gunungkidul juga menjadi daya tarik wisatawan dengan adanya beragam geowisata yang sayang jika dilewatkan, seperti halnya Kalisuci dan Goa Jomblang.

Sejarah pertapaan Kembang Lampir

Pada mulanya, Kembang Lampir ini merupakan tempat bertapa Ki Ageng Pemanahan guna mendapatkan wahyu kraton Mataram (Gagak Emprit) sehingga dapat menurunkan raja-raja di Jawa. Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan Brawijaya V dari kerajaan Majapahit. Dari pertapaan tersebut, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan petunjuk dari Sunan Kalijaga. Petunjuk itu menyebutkan bahwa Gagak Emprit berada di Dusun Giring, Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. Ki Ageng Pemanahan pun menuju Desa Sodo.

Sesampainya di Desa Sodo, Ki Ageng Pemanahan singgah di rumah Ki Ageng Giring. Menurut legenda, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring berebut wahyu keraton (Pancapurba). Pancapurba tersebut disimbolkan dalam bentuk kelapa muda (degan). Diceritakan bahwa barang siapa yang meminum air kelapa muda tersebut sampai habis maka keturunannya akan menjadi raja Tanah Jawa. Dalam perebutan tersebut, Ki Ageng Pemanahan keluar sebagai pemenangnya.

Wisata Bersejarah Pesanggrahan Gambirowati

Pesanggrahan Gambirowati adalah bangunan periode Islam yang terletak di Dusun Watugajah, Desa Girijati, Kecamatan Purwosari, Gunungkidul. Menurut Babad Tanah Jawi, situs Gambirowati ini merupakan bekas pesanggrahan yang digunakan oleh Sultan HB II. Situs Gambirowati mempunyai luas 13.200 m2 dan terletak pada ketinggian 138 mdpl memiliki struktur bangunan berteras dan berbahan batu putih. Di dalam OV (Oudheidkundige Verslag) tahun 1925 FDK Bosch menyebut bangunan tersebut berasal dari abad XVI. Wisata budaya ini terletak tidak jauh dari pantai Parangtritis. Hanya cukup menempuh jarak sekitar 3 km dari pantai Parangtritis, wisatawan sudah dapat menemukan situs Gambirowati tersebut. Pesanggrahan Gambirowati memiliki luas 13.200 meter persegi dengan letak ketinggian 138 meter di bawah permukaan laut. Pesanggrahan Gambirowati memiliki struktur bangunan berteras dan juga berbahan batu putih.

Bangunan candi diduga oleh masyarakat sekitar adalah reruntuhan candi, namun sebenarnya adalah sebuah pesanggrahan yang dibangun pada jaman mataram islam. Pesanggrahan gambirowati ini merupakan tempat sebagai pesanggrahan sultan hamengku Buono yang ke-2 yang telah memerintah selama 3  periode pada kurun waktu 1792-1828 Masehi. Tahun pembuatan candi ini tidak dikenal dengan jelas, ada juga yang menyatakan bahwa candi tersebut pernah dipakai untuk pemujaan Nyai roro kidul atau penguasa laut selatan. Situs tersebut juga pernah dikunjungi oleh ahli purbakala pada tahun 1902 F.D.K Bosch menyatakan bahwa dari arsitektur bangunan berbentuk pilar perkiraan peninggalan ini dibangun pada abad -16.

Bangunan Gambirowati pada mulanya diduga oleh masyarakat setempat sebagai reruntuhan candi. Namun kenyataanya, bangunan tersebut merupakan tempat pesanggrahan yang didirikan pada zaman mataram islam. Tahun pembuatan pesanggrahan Gambirowati tersebut tidak begitu jelas. Tepat di depan pesanggrahan Gambbirowati terdapat Punden Berunduk. Dari Punden Berunduk ini wisatawan akan melihat pemandangan sawah dengan pepohonan besar yang rindang di arah selatan. Tempat ini merupakan salah satu spot menarik untuk berfoto selfie.

Para wisatawan yang ingin berkunjung ke pesanggrahan Gambirowati ini sebaiknya melewati jalur Panggang atau Wonosari. Kemudian, setelah menemukan pertigaan pertama ambil arah ke kanan. Ketidaktahuan letak pesanggrahan Gambirowati menjadikan wisata budaya ini sepi pengunjung. Wisatawan lebih memilih berkunjung ke pantai Parangtritis yang berada tak jauh dari tempat ini. Padahal wisata budaya pesanggrahan Gambirowati ini menyimpan sejarah dan nilai-nilai luhur yang tinggi sehingga sayang jika dilewatkan. Pesanggrahan Gambirowati ini juga semakin indah dengan hamparan pemandangan yang masih hijau dan alami di sekelilingnya. Masyarakat setempat pun juga sangat ramah kepada wisatawan yang datang.

situs-megalitikum-sokoliman

Situs Megalitikum Sokoliman

Situs Sokoliman merupakan situs kepurbakalaan yang terletak di Dusun Sokoliman II, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, DI Yogyakarta, tidak jauh (sekitar 5 km) dari objek wisata Gua Pindul. Situs ini berfungsi sama seperti situs Bleberan, di Kecamatan Playen, Gunungkidul, yaitu menampung dan mengamankan benda-benda cagar budaya, terutama yang bersifat megalitik, khususnya yang ditemukan di Desa Bejiharjo. Lokasinya berbatasan dengan lahan milik Perhutani yang ditanami kayu putih. Di sebelah selatan situs ini membentang Kali Oya yang membuat lumayan subur area yang dilaluinya. Hulu DAS (daerah aliran sungai) Kali Oya adalah wilayah Kecamatan Semin yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri. Kali Oya sendiri merupakan sungai terpanjang di Kabupaten Gunungkidul, yang muaranya bertemu dengan Kali Opak di sekitar daerah Kretek Parangtritis Bantul.

Situs Sokoliman ini menurut catatan Balai Arkeologi Yogyakarta termasuk salah satu Cagar Budaya Situs Megalitikum yang sporadis tersebar di kawasan Gunungkidul. Benar memang, wujud fisik situs ini hanyalah berupa kumpulan batu-batu yang saat ini sudah tertata rapi dan diberi kode identifikasi di atas tanah yang sudah diratakan dan diberi batas dengan concrete-blok. Terdapat beberapa blok untuk meletakkan batuan di area situs ini. Ada 4 blok terpisah, membujur selatan-utara di sebelah kanan pintu masuk, dan membujur timur barat dan utara selatan di sebelah baratnya. Untuk blok di sebelah kiri pintu masuk terdapat batuan serupa papan berdiri yang diapit oleh batuan bulat panjang di masing-masing sisinya. Kode-kode identifikasi, seperti: A01, A02, D24, D25, dan seterusnya tampaknya merupakan kode penelitian arkeologis yang telah dilakukan. Sayangnya di lokasi situs ini tidak tersedia informasi apa arti kode-kode tersebut.

Sejarah Situs Megalitikum Sokoliman

Di Gunungkidul, sebaran situs megalitikum memang mencakup beberapa lokasi yang tampaknya berpola tidak jauh-jauh berada di sepanjang aliran Kali Oya. Tercatat beberapa situs seperti di Gondang, Sokoliman, Gunungbang, Kajar, Wonobuda, dan Bleberan. Diluar DAS Oya memang terdapat pula situs megalitikum, seperti di Goa Braholo di daerah selatan Gunungkidul. Hasil riset yang dilakukan tahun 1934 tersebut menunjukkan bahwa situs-situs megalitikum termasuk Situs Sokoliman ini teridentifikasi sebagai kompleks kubur peti batu. Pada kubur peti batu di Kajar ditemukan 35 individu bertumpukan pada kedalaman 80cm dengan bekal kubur beberapa alat dari besi berupa arit.

Temuan lain berupa cincin perunggu dan sebuah mangkok terakota (gerabah). Pada salah satu rangka malah ditemukan sebilah pedang besi yang telah patah yang dipegang tangan kiri, sementara pada pedang itu sendiri melekat bekas-bekas tenunan yang kasar. Kubur peti batu yang ditemukan di Bleberan berisi 3 individu yang bertumpukan dalam posisi telentang dengan kepala di sebelah utara. Tiga buah benda besi terletak di atas dada rangka yang paling atas, cincin tembaga, pisau besi, dan beberapa manik tersebar di antara rangka itu. Hasil ekskavasi van Der Hoop pada tahun 1935 di daerah Kajar, Sokoliman, Gunung Abang, Bleberan, Wonobudo, dan Gunung Gondang ditemukan peti kubur batu berisi beberapa individu yang dikubur dalam posisi lurus. Bersama kerangka manusia itu, juga ditemukan pula benda-benda dari ebsi dan fragmen perunggu, manik-manik, serta benda-benda dari gerabah.

Penelitian arkeologi lanjutan pada tahun 1985 dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta terhadap peti kubur batu di Sokoliman ini. Dari penelitian tersebut digali 3 kubur peti batu yang berkode D22A, D22B, dan D24B yang dipandang paling baik meskipun seluruh kubur tersebut terdiri atas pecahan gerabah (kereweng), tulang manusia, tulang hewan, fragmen logam, manik-manik, dan arang. Hasil analisis lanjut terhadap fagmen tulang manusia, diketahui bahwa dari kubur D22A terdapat individu dan dari D22B diketahui terdapat 5 individu, sedangkan dari D22B tidak dapat teridentifikasi karena pecahannya sangat kecil. Dari hasil analisis tulang hewan diketahui terdapat 3 jenis hewan, yaitu: babi, banteng, dan rusa.

 

Artikel terkait Wisata Budaya Bersejarah Tinggi Di Gunungkidul Yang Wajib Anda Kunjungi