lklan-728x90
Menu

Tempat Angker Di Jogja Yang Dijadikan Wisata

Tempat Angker Di Jogja – Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Kota ini penuh dengan keistimewaan dan ragam budaya. Daya tarik wisatanya membuat banyak orang yang berkunjung kesana. Sejumlah tempat di jogja menjadi tempat  tujuan wisata sebagian besar masyarakat Indonesia.  Kota ini tidak hanya terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, tapi juga mancanegara. Mayoritas masyarakat Jogja yang masih memegang teguh tradisi Jawa juga memiliki daya tarik tersendiri. Akibatnya ada banyak tempat yang tersebar di jogja beserta ribuan mitos-mitos yang hidup di dalamnya. Bahkan akibat mitos tersebut, ada beberapa tempat wisata yang kemudian dikenal dengan keangkerannya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan minat wisatawan untuk berkunjung kesana.

tempat-angker-di-jogja-yang-dijadikan-wisata

Keistimewaan Yogyakarta bukan hanya terletak pada kehidupan masyarakatnya yang masih memegang teguh adat dan budaya Jawa atau pemerintahannya yang masih mempertahankan model kerajaan, namun juga karena pluralisme yang ada di dalamnya termasuk banyak pula pilihan tempat wisata yang simpel tapi menarik dan bikin traveler selalu kangen balik ke kota ini. Pilihan wisata di Yogyakarta memang komplit mulai dari tempat biasa hingga yang tak biasa. Kali ini akan membahas tempat wisata yang tidak biasa, yang menawarkan traveler bertemu makhluk tak kasat mata. Nyatanya Yogyakarta masih menyimpan tempat-tempat yang dianggap angker atau berhantu yang sering digunakan sebagai tujuan wisata mistis.

Tempat Angker Di Jogja

Banyak orang percaya bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk yang tak kasat mata di sekitar kita. Bahkan, di negara kita masih banyak ditemui kebudayaan dan adat istiadat yang sangat kental dengan hal-hal mistis. Salah satu kota yang sangat menjunjungi tinggi adat istiadatnya yaitu Jogjakarta. Selain itu, kota pelajar ini juga banyak sekali menyimpan kisah-kisah mistis. Bahkan, ada beberapa tempat yang terkenal angker. Tempat angker di Jogja ini dipercaya oleh penduduk setempat dihuni atau didiami oleh makhluk-makhluk tak kasat mata yang sering menampakan atau menganggu orang disekitar tempat itu.

Tentu Anda sudah tahu seperti apa keistimewaan kota Gudeg, Yogyakarta. Selain dari namanya Daerah Istimewa Yogyakarta, kota yang berada di bagian tengah pulau jawa ini sejak dulu dikenal akan ragam budaya dan pesona alamnya yang sangat indah. Sebut saja sederet candi yang menjadi peninggalan bersejarah dalam perkembangan kehidupan di jaman dulu. Namun, selain sederet tempat yang menjadi daya tarik wisatawan Yogyakarta juga memiliki sejumlah tempat yang dikenal angker dan sangat menyeramkan. Banyak kisah hingga pengakuan dari sejumlah kalangan yang mengakui langsung keangkeran dari sejumlah tempat menyeramkan di Yogyakarta.

Pantai Parangtritis Tempat Wisata Mistis

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang paling terkenal di Jogjakarta. Lokasinya yang hanya berjarak 27 kilometer dari kota Jogjakarta, menjadikan pantai ini termasuk wajib dikunjungi. Ombaknya yang besar khas pantai di pesisir selatan, serta pemandangannya di waktu matahari tenggelam yang sangatl romantis, menjadi daya Tarik pantai. Tak heran jika tempat ini sering digunakan sebagai lokasi prewedding ataupun sekedar lokasi rekreasi bersama keluarga. Namun di balik keindahannya, ternyata pantai ini menyimpan banyak misteri yang bersifat mistis. Mulai dari misteri Kerajaan Kanjeng Ratu Kidul yang melegenda, sampai misteri ombak besarnya yang sering memakan korban.

Kepercayaan mistis yang paling kuat di sekitar wilayah pantai Parangtritis adalah adanya sebuah kerajaan laut yang dipimpin oleh Kanjeng Ratu Kidul. Konon, Kanjeng Ratu Kidul, atau ada juga yang menyebutnya sebagai Nyi Roro Kidul, adalah salah satu penguasa gaib yang mengitari Kesultanan Yogyakarta. Karena itu para Sultan harus tetap menjalin komunikasi dengan penguasa laut selatan ini, dan harus meminta restu Nyi Roro Kidul dalam melaksanakan setiap kegiatan, agar semua berjalan dengan aman dan tenteram.

pantai Parangtritis dipercaya sebagai pintu gerbang menuju kerajaan gaib di laut selatan. Karenanya, di pantai Parangtritis sering dilakukan tata cara adat agar sultan bisa berkomunikasi dengan kanjeng ratu gaib tersebut. Masih erat dengan kepercayaan adanya hubungan dengan kerajaan gaib di laut selatan, di pantai Parangtritis sering dilakukan upacara pemberian sesaji atau yang disebut dengan labuhan. Tradisi ini sendiri mulai dilakukan sejak jaman Sultan Hamengkubuwono I dan masih berlangsung hingga saat ini.

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan secara resmi dalam acara penobatan Sultan, peringatan hari Ulang Tahun Penobatan Sultan yang disebut “Tingalan Panjenengan” atau “Tingalan Dalem Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan” dan peringatan hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap delapan tahun. Selain dari ketiga rangka peristiwa di atas, upacara labuhan dapat juga diselenggarakan untuk memenuhi hajat tertentu dari Sri Sultan, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya. Dengan tradisi ini, diharapkan agar kesejahteraan Sultan dan masyarakat di sekitar kesultanan tetap terjamin.

Kisah Mistis Pantai Parangtritis

Kisah mistis lain berhubungan dengan larangan memakai baju hijau jika berkunjung ke pantai Parangtritis. Konon, Ratu Pantai Selatan sangat menyukai warna hijau. Dalam beberapa lukisan yang dibuat, sang ratu digambarkan mengenakan pakaian warna hijau juga. Dan jika ada orang memakai baju hijau (utamanya pria), maka Kanjeng Ratu akan suka, dan kemungkinan besar akan “direkrut” untuk menjadi pegawainya. Dan tempat “perekrutan” favorit adalah di pantai Parangtritis ini.

Tak dipungkiri, besarnya ombak di pantai Parangtritis seringkali membawa korban. Meski secara resmi pemerintah telah melarang wisatawan untuk mandi di pantai, namun tetap saja ada orang yang melanggarnya. Atau, jikapun tidak mandi, mereka bermain air terlalu jauh dari bibir pantai. Uniknya, semua korban yang tenggelam susah ditemukan pada hari yang sama. Meskipun sudah dicari di seluruh lokasi sekitarnya.

Namun setelah dua atau tiga hari kemudian, jasad orang tersebut akan ditemukan mengambang dengan sendirinya di lokasi yang tidak jauh dari tempat menghilangnya. Konon, sang korban “diambil” oleh Kanjeng Ratu Kidul dan jasadnya disandera untuk sementara waktu. Jika keempat misteri di atas lebih bersifat mistis, maka misteri hisapan ombak ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Menurut penelitian para ahli, penyebab utama hilangnya para wisatawan di pantai Parangtritis adalah karena adanya rip current. Rip current adalah arus balik yang terjadi akibat aliran air gelombang datang dan kemudian membentur pantai dan kembali lagi ke laut.

Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu bisa menjadi sangat mematikan. Korban akan mudah terseret arus balik jika berada terlalu jauh dari bibir pantai. Jika pada saat terseret arus ini korban kemudian melawan, maka dia akan semakin jauh terseret arus bawah laut dan selanjutnya bisa tersangkut karang atau masuk ke dalam patahan dalam laut. Di sini korban akan diendapkan dan baru bisa kembali terangkat ke permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar laut. Dan hal ini butuh waktu beberapa hari.

Goa Jepang Jogja

Kaliurang sebenarnya adalah kawasan wisata yang berada di lereng gunung Merapi, disana terdapat Tlaga, air terjun, juga kawasan wisata keluarga lainnya, namun yang menarik perhatian saya adalah Goa Jepang yang ternyata untuk mencapainya kita harus tracking menyusuri jalan-jalan setapak berbatu yang dikelilingi pepohonan rimbun dilereng bukit sejauh 1100 meter. Dan hampir disetiap tikungan jalan setapak dijumpai kendi-kendi untuk tempat berendam bagi amfibi-amfibi yang hidup disekitar sana, hal ini merupakan satu tindakan konservasi yang bagus untuk kelestarian fauna andemik disana.

Goa Jepang ini bukanlah goa alami yang memiliki stalagmit atau stalaktit. Menurut pak Dasri [juru kunci], Goa Jepang ini adalah sisa peninggalan masa penjajahan Jepang yang dikerjakan oleh rakyat Indonesia secara paksa [kerja romusa] tahun 1942-1945, terdiri dari 25 goa yang berjajar sepanjang jalan setapak berliku-liku di sisi kanan bukit Plawangan, jika perjalanan dilanjutkan sampai puncak bukit, disana terdapat menara pantau yang bisa melihat landscape kota Jogja yang saat ini digunakan untuk memantau aktivitas gunung Merapi.

Gua yang berada di kaki gunung Merapi ini juga dikenal sebagai tempat angker yang sangat mengerikan. Dahulu kala di era penjajahan Jepang, gua ini menjadi jalur alternatif dan juga tempat penyiksaan tawanan perang hingga sejumlah prajurit. Tak ayal, di dalam gua konon disebut sering terjadi penampakan-penampakan makhluk gaib yang sangat menyeramkan.

tempat-angker-di-jogja-yang-dijadikan-wisata

Akses Gua Jepang

Untuk sampai ke Goa Jepang dari pintu masuk Nirmolo Kaliurang, pengunjung harus menempuh perjalanan menanjak selama 45 menit. Jalur yang dilalui tidak terlalu terjal tapi berliku. Bagi yang tidak suka dengan wisata petualangan, mungkin akan menyerah sebelum sempat sampai ke lokasi Goa Jepang. Tapi bagi yang mampu bertahan, dari pertigaan jalur antara Plawangan dan Goa Jepang, pengunjung dapat menyaksikan keindahan Gunung Merapi dari dekat.

Menurut pengelola kompleks wisata alam Nirmolo Kaliurang, Goa Jepang yang berada di Kaliurang dahulu difungsikan oleh tentara Jepang sebagai tempat tinggal dan berlindung dari tentara sekutu. Berbeda dengan karakter Goa Jepang yang ada di beberapa kota lain di Indonesia, seperti di Bandung, Papua, Bali, NTT, dan Jawa Timur, Goa Jepang yang berada di Kaliurang berjumlah 25 unit. Goa-goa tersebut saling berhubungan satu sama lain, masih orisinal, dan tanpa penerangan.

Walau tanpa penerangan, pengunjung tidak perlu khawatir ketika memasuki goa ini. Di depan pintu masuk goa pertama, terdapat pemandu yang siap menemani dan menjelaskan berbagai hal tentang goa ini. Dengan biaya yang relatif terjangkau, pengunjung dapat menyewa fasilitas penerangan sekaligus ditemani seorang pemandu. Selain Goa Jepang, di kompleks wisata alam Nirmolo Kaliurang yang berada di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi juga terdapat beberapa situs wisata lain – seperti curug dan Plawangan.

Pengunjung akan mendapatkan dua manfaat sekaligus jika berkunjung ke kompleks wisata ini. Selain dapat menikmati wisata alam, pengunjung juga diperkaya dengan pengetahuan sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Masa perang dan penjajahan sudah usai, kini tak ada lagi senjata yang disimpan disini, tak ada timbunan makanan untuk tentara perang, tak ada pula pekerja romusa disini, yang ada hanya ruang-ruang goa dengan dinding yang lembab dan berlumut, tempat ini telah menyimpan begitu banyak cerita sejarah masa penjajahan Jepang.

Kisah Mistis wisata Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg Yokyakarta, yang dibangun Sri Sultan Hamengku Buwono I di tahun 1760 atas permintaan Gubernur Jendral Belanda WH. Van Ossenberch, kini telah beralih menjadi sebuah museum. Disamping itu, sering juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kesenian dan pemeran. Dengan begitu, bekas benteng VOC ini sehari-hari selalu ramai. Walau begitu, benteng pertahanan yang awalnya bernama Rustenburg ini ternyata masih angker. Konon benteng tua ini dihuni hantu wanita bule berkaki seperti kuda. Bahakan terkadang juga muncul defile serdadu berseragam kompeni jaman dahulu. Konon, pasukan itu muncul tanpa kepala.

Parno, 45 tahun, penarik becak yang biasa mangkal di depan Pasar Beringharjo, pernah ditemui hantu noni cantik berkaki kuda itu sekitar 3 beberapa bulan yang lalu. Kejadiaannya di atas pukul 24.00 WIB. Ketika itu, warga Sewon Bantul ini merasa lelah menunggu penumpang dari pengunjung lesehan Malioboro. Saat menjalankan becak perlahan-lahan di depan Benteng Vredeburg, dari arah gerbang benteng itu, muncul wanita cantik dengan gaun panjang. Nalurinya sebagai penarik becak langsung bekerja. Parno coba mendekati wanita bule cantik itu. Dia menawarkan jasanya. “Saat wanita menyibakkan kakinya, ternyata berkaki kuda. Nyaris saja pingsan dibuatnya. Becak saya genjot cepat-cepat meninggalkan tempat itu sambil berteriak ketakutan,” ceritanya.

Lain lagi Haryanto, warga Pakualaman, Yokyakarta. Saat itu dia mendapat tugas jaga stand pameran senirupa pada saat Festivai Kesenian Yokyakarta (FKY). Maklum saja karena pameran senirupa banyak lukisan yang mahal harganya, sehingga harus dijaga ekstra ketat agar tidak jadi sasaran maling. Saat dini hari, dia melihat ada suara aneh dari beberapa bangunan di Benteng Vredeburg. Kemudian terdengar seperti pasukan yang lagi bersiap untuk berbaris dengan aba-aba bahasa belanda. Derap sepatu Belanda itu datang seperti mendekati tempatnya berjaga. “Yang membuat saya berteriak ketakutan, karena sepasukan serdadu yang datang itu tanpa kepala. teriakan saya membuat geger yang jaga di stand yang lain. Anehnya yang melihat kejadian mengerikan itu cuma saya sendiri,” kisahnya.

Tahun 1988, saat diadakan renovasi Pasar Beringharjo, jeritan muncul membuat takut para pekerja yang tidur dibedeng-bedeng yang terletak di kawasan dekat benteng. Teror  jeritan itu baru berhenti, setelah beberapa pekerja menemukan kerangka yang dikubur disebelah utara Benteng Vredeburg. Oleh para  pekerja, kerangka yang kemungkinan adalah tawanan dari sel yang berada di Benteng Vredeburg dipindahkan ke pemakaman umum.

Benteng Vredeburg memang merupakan tangsi militer. Ada dua jenis tahanan, yaitu sel untuk rakyat atau kawula yang menentang pemerintah panjajahan Belanda yang berada di sebelah barat pojok  utara yang kini telah dirubah menjadi musholah untuk para pengunjung dan petugas benteng Vredeburg. Satu lagi adalah sel yang berada di sebelah timur pintu gerbang benteng. Bangunan lebih mewah. Tampaknya ini merupakan tempat tahanan bagi orang-orang VIP atau para bangsawan Keraton Yokyakarta yang dianggap makar terhadap para penjajah Belanda. Termasuk juga para pengikut Pangeran Diponegoro ditempatkan disel ini sebelum dibuang keluar pulau jawa.

Benteng itu juga dikelilingi parit yang dalam dan jembatan gantung. Bangunan-bangunan kokoh perumahan para opsir , juga sosiatet atau tempat hiburan para serdadu belanda berada dilingkungan benteng. Kuatnya benteng itu terlihat saat terjadi gempa yang melanda wilayah DI Yokyakarta pada tanggal 267 Mei 2006 lalu. Benteng Vrederburg tak mengalami kerusakan yang berarti.

 

 

 

 

 

Artikel terkait Tempat Angker Di Jogja Yang Dijadikan Wisata