lklan-728x90
Menu

Tantang Nyali Anda Menyusuri Luweng Grubug Di Gunungkidul

Bila anda pernah mendengar kata luweng inilah pengertiannya, luweng merupakan  sumur yang sangat dalam yang terdapat di dalam gua, biasanya ini dikarenakan adanya aliran sungai bawah tanah. Luweng juga dapat diartikan sebagai gua vertikal yang adanya di daerah karst.

Kabupaten Gunungkidul sendiri merupakan salah satu daerah karst pegunungan seribu atau termasuk ke dalam kawasan geopark gunungsewu. Bentangan karst ini meliputi wilayah kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Karst Sewu ini pertama kali dikenalkanoleh Danes (1910) dan Lhman (1963), karst disini memiliki karakteristik bentang lahan karst tropic dan dibedakan oleh perubahan mekanisme morfologi dan genesis bentuk lahan. Salah satunya Luweng (goa vertical).

Tantang Nyali Anda Menyusuri Luweng Grubug Di Gunungkidul
Sehingga di Gunungkidul ini banyak terdapat luweng yang di dalamnya terdapat aliran sungai bawah tanah. Nah, salah satu luweng di Gunungkidul yang akan kita bahas kali ini adalah luweng Grubug yang telah menjadi objek wisata di kabupaten Gunungkidul ini.

Fakta Sejarah Luweng Grubug Gunungkidul

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 silam menjadi sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Gerakan yang hendak merubah idiologi Pancasila menjadi Komunis tersebut berhasil ditumpas oleh Tentara Nasional Indonesia.

Operasi penumpasan kroni-kroni PKI ini terjadi dihampir seluruh wilayah Indonesia tak terkecuali di Gunungkidul. Banyak lokasi di kabupaten paling timur DIY ini yang menjadi saksi bisu pembrangusan antek-antek PKI. Salah satunya gua Grubug yang terletak di Dusun Jetis, Desa Pacarejo, Semanu.

Di gua vertikal ini, puluhan tahun silam menjadi lokasi pembantaian antek-antek PKI. Orang –orang yang terkait dengan gerakan komunis tersebut dibunuh dan dilemparkan ke dalam lubang raksasa yang memiliki kedalaman sekitar 100 meter tersebut. Meski terjadi sekitar 48 tahun silam, cerita pembantaian pengikut PKI saat itu masih diingat oleh warga sekitar lokasi gua.

Setelah era PKI berhasil ditumpas, perlahan keseraman Gua Grubung mulai pudar. Tulang belulang manusia yang pernah dibuang ke dalam gua sudah dibersihkan oleh pemerintah sekitar tahun 1982 silam. Dari cerita yang beredar, ada sekitar tiga truk tulang-belulang yang berhasil diambil dari dalam gua. Saat ini, Gua Grubug menjadi salah satu obyek wisata minat khusus yang mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Luweng Grubug Menjadi Favorit Wisatawan

Saat ini, Gua Grubug menjadi salah satu objek wisata yang diminati dan mulai ramai dikunjungi wisatawan untuk susur gua karena lokasinya memang masih satu kawasan dengan wisata Gua Jomblang.

Untuk memasuki Gua Grubug ini ada 3 jalur, yaitu lewat Gua Jomblang kemudian menyusuri lorong yang menghubungkan Jomblang-Grubung, turun langsung dari entrance Gua Grubug dan SRT-an kurang lebih 90 meter, atau lewat Jomblang Kiri dengan medan yang sangat ekstrim. Untuk opsi kedua hanya boleh dilakukan oleh caver yang sudah bersertifikasi, opsi ketiga juga begitu karena membutuhkan skill khusus dan fisik yang kuat. Jalur ketiga ini baru saja dilewati pak Cahyo Alkantana dan tim Kick Andy saat syuting Teroka KompasTV edisi Jomblang-Grubug.

Tidak butuh waktu yang lama untuk turun dan menjejakkan kaki di tanah yang becek dan licin di dasar luweng Grubug. Gemuruh air semakin kuat dan terasa dekat. Aliran air bawah tanah ini ternyata masih satu aliran dengan Kalisuci. Setelah sampai di bawah ternyata ada kotak-kotak beton yang tertata rapi seperti jalan setapak.

Sesampainya di bawah, anda dapat menikmati siraman cahaya dari atas yang masuk dari mulut goa. Seperti dapat siraman cahaya dari surga. Sungguh keindahan alam dari Sang Pencipta yang begitu indah. Saran saya, Untuk pemula, mungkin bisa mencoba masuk ke Luweng Grubug lewat Goa Jomblang. Wisatawan bisa menikmati siraman cahaya surga Luweng Grubug dengan menelusuri lorong sepanjang 300 meter.

 

 

 

 

 

Artikel terkait Tantang Nyali Anda Menyusuri Luweng Grubug Di Gunungkidul