lklan-728x90
Menu

Stupa Glagah, Situs Sejarah di Pesisir Selatan Jawa

KABUPATEN Kulonprogo memiliki potensi wisata peninggalan budaya bangsa masa lalu. Salah satunya adalah sebuah stupa yang terbuat batu andesit berdiri tegak di sisi selatan jalan raya Daendels, Sidorejo, Glagah, Kulonprogo, tak terlalu jauh di sebelah barat Pantai Glagah. Di Pantai Glagah pun terdapat beberapa situs sejarah. Salah satu diantaranya adalah situs Stupa Cagar Budaya.

Stupa ini memiliki tinggi 125 cm, dan diameter 30 cm. Batu alas atau lapik stupa berukuran sekitar panjang 75 cm, lebar 75 cm, dan tinggi sekitar 30 cm. Diperkirakan, batu alas stupa ini berasal dari periode waktu abad 8-9 Masehi. Stupa yang terletak di pekarangan rumah warga ini dikelilingi oleh pagar dari rantai sebagai penanda situs.

Stupa Glagah, Situs Sejarah di Pesisir Selatan Jawa

Lokasi Situs Glagah

Situs Glagah secara administratif terletak di dusun Sidorejo, desa Glagah, kecamatan Temon, kabupaten Kulon Progo. Kondisi geografis berada di sekitar pantai Glagah dengan ketinggian 8, 20 diatas permukaan air laut. Letak situs berada pada garis lintang 110˚ 04’ 44, 84” BT dan 7˚ 54’ 18,31” LS dengan kondisi lingkungan berupa daerah pantai yang cukup subur.

Tidak ada informasi tertulis yang menjelaskan mengenai asal stupa dan periodisasinya, serta tidak ditemukan data yang mengarah pada penentuan masa pembuatannya. Menurut cerita yang berkembang di daerah sekitar situs, dikisahkan bahwa di lokasi sekitar situs pernah bertakhta seorang bupati bernama Cangakmengeng di wilayah Kadipaten Sios. Semasa pemerintahannya, ia mendirikan padepokan tempat bersemedi dalam agama Budha bagi kedua putrinya, yaitu Nyi Sekar Kenanga dan Nyi Gadung Melati. Bangunan kedua padepokan tersebut dipercaya penduduk didirikan bersebelahan di sekitar Situs Glagah. Sampai saat ini lokasi stupa oleh penduduk disebut sebagai bekas tempat pertapaan Nyi Sekar Kenanga, sedangkan tempat pertapaan Nyi Gadung Melati terletak di sebelah barat stupa, tepatnya di lumpang batu.

Sejarah Stupa Glagah

Stupa Glagah tersebut merupakan situs bersejarah Desa Glagah. Adapun sejarah singkat Desa Glagah adalah sebagai berikut.

Pada tahun kurang lebih 600 Masehi atau abad ke 6 Glagah sudah ada penghuninya dan berperadaban sudah maju terbukti diwilayah padukuhan Sidorejo ( Sios ) terdapat Benda Cagar Budaya berbentuk STUPA.

 

Menurut para ahli dari Dinas Purbakala Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa Situs Sidorejo (Sios) dibangun pada abad ke 6 , Situs tersebut merupakan Pusat penyebaran Agama Budha, tetapi kalau menurut legenda masyarakat bahwa SIOS merupakan sebuah Kadipaten, ketika itu Kadipaten Sios akan diajak Besanan dengan Kadipaten LOANO tetapi tidak setuju sehingga Kadipaten Sios di sapu lebu oleh Bupati Sios sendiri.

 

Kalau kita melihat Peninggalan yang ada di Padukuhan Sidorejo ( Sios ) banyak ditemukan benda-benda Purbakala antara lain :

1.Arca Wisnu yang terbuat Perunggu ( Sekarang ada di Dinas Purbakala ).

2. Batu berbentuk Lingga dan Yoni

3. Batu berbentuk Lumpang menyerupai Gong.

4. Batu bata Ukuran besar yang tersebar di wilayah Padukuhan Sidorejo

Terdapat atap yang dipasang untuk menaungi stupa tersebut, serta papan informasi dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ada pula bendera merah putih yang dipasang di depan stupa. Meski tak terlalu tampak jelas dari jalan raya namun ada papan nama yang jelas menunjukkan peninggalan arkeologi dari kepercayaan agama Buddha ini. Stupa Glagah dilengkapi dengan sejumlah peninggalan batu dalam berbagai ukuran di sekitarnya. Namun, tak ada keterangan tertulis yang melengkapi stupa tersebut. Sekilas, stupa dan alasnya menyerupai bentuk lingga dan yoni, simbol ketuhanan dalam kepercayaan Hindu Shiwa.

Nah, jika anda ingin berkunjung dan melihat kebesaran sejarah yang ada di sini silahkan saja.

 

Artikel terkait Stupa Glagah, Situs Sejarah di Pesisir Selatan Jawa