lklan-728x90
Menu

Situs Giring, Wisata Religi Bersejarah Di Gunungkidul

Seorang tokoh yang banyak dikenal kalangan awam yang pernah terkait dalam sejarah pendirian Kerajaan Mataram Islam. Namanya adalah Ki Ageng Giring. Dan makam dari ki Ageng Giring ini berada di kawasan Desa Sada, Kecamatan Paliyan,Kabupaten Gunungkidul kini menjadi salah satu destinasi wisata religi sejarah yang terkenal di kawasan Gunungkidul dan Yogyakarta.

Menurut silsilah nya Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan Brawijaya 4 yang hidup pada abad 16. Dari penuturan para sesepuh ki Ageng Giring yang merupakan murid dari Sunan Kalijaga tetap mudarat seperguruan Ki Ageng Pamanahan adalah perintis awal desa Sodo.

Situs Giring, Wisata Religi Bersejarah Di Gunungkidul

Situs Makam ki Ageng Giring

Makam Ki Ageng Giring III merupakan makam pepunden Mataram yang diyakini oleh sementara masyarakat sebagai penerima wahyu Karaton Mataram. Makam kuna itu terletak di Desa Sada, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, atau sekitar 6 kilometer ke arah barat daya dari kota Wonasari.

Menurut Mas Ngabehi Surakso Fajarudin yang menjabat jurukunci makam Giring, disebutkan bahwa Ki Ageng Giring adalah salah seorang keturunan Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup pada abad XVI. Dari perkawinannya dengan Nyi Talang Warih melahirkan dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wanakusuma yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV.

Pencarian wahyu Keraton Mataram itu konon atas petunjuk Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Giring disuruh menanam sepet (sabut kelapa kering), yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa yang menghasilkan degan (buah kelapa muda). Sedangkan Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di Kembang Semampir (Kembang Lampir), Panggang, Gunung Kidul.

Menurut wisik ‘bisikan gaib’ yang didapat, air degan milik Ki Ageng Giring itu harus diminum saendhegan (sekaligus habis) agar kelak dapat menurunkan raja. Oleh karenanya Ki Ageng Giring berjalan-jalan ke ladang terlebih dulu agar kehausan sehingga dengan demikian ia bisa menghabiskan air degan tersebut dengan sekali minum (saendhegan). Namun sayang, ketika Ki Ageng Giring sedang di ladang, Ki Ageng Pemanahan yang baru pulang dari bertapa di Kembang Lampir singgah di rumahnya, dalam keadaan haus ia meminum air kelapa muda itu sampai habis dengan sekali minum.

Betapa kecewa dan masygulnya perasaan Ki Ageng Giring melihat kenyataan itu sehingga dia hanya bisa pasrah, namun ia menyampaikan maksud kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang anak turunnya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram. Dari musyawarah diperoleh kesepakatan bahwa keturunan Ki Ageng Giring akan diberi kesempatan menjadi raja tanah Jawa pada keturunan yang ke tujuh.

Ki Ageng Giring Dan Gunungkidul

Berbicara soal Gunungkidul tak bisa lepas dari satu tokoh ini. Ki Ageng Giring. Bahkan sebenarnya dalam skala yang lebih luas, Ki Ageng Giring memiliki peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

Ki Ageng Giring (mengacu pada Ki Ageng Giring III) adalah salah seorang keturunan Prabu Brawijaya IV dari Retna Mundri, yang hidup dan menetap pada abad XVI di Desa Sodo Giring, Kecamatan Paliyan. Desa Sodo terletak sekitar 6 km arah barat daya kota Wonosari. Beliau adalah sesepuh Trah Mataram yang sangat dihormati.

Perlu diketahui, gelar ki ageng adalah gelar seseorang tokoh pada waktu sudah purna tugas kenegaraan, atau setelah lengser dari jabatannya. Pada masa aktif menjabat biasanya disebut ki gede. Lalu setelah sepuh, jabatan dialihterimakan kepada keturuannya dan sebagai sesepuh tokoh tersebut disebut ki ageng. Demikian pula asal nama Ki Ageng Giring (mengacu kepada Ki Ageng Giring I, II, III dan IV). Makam Ki Ageng Giring III dikelola oleh Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat karena merupakan pepunden Trah Mataram sebagai penerima wahyu kraton.

Artikel terkait Situs Giring, Wisata Religi Bersejarah Di Gunungkidul