lklan-728x90
Menu

Sejarah Tempat Ziarah Petilasan Di Padukuhan Wonontoro Gunungkidul

21/09/2016 | Seni Budaya

Tempat Ziarah Petilasan Di Wonontoro Gunungkidul – Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosari. Dengan luas sekitar satu per tiga dari luas daerah induknya, kabupaten ini relatif rendah kepadatan penduduknya daripada kabupaten-kabupaten lainnya. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo di utara, Kabupaten Wonogiri di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman di barat. Kabupaten Gunungkidul memiliki 18 kecamatan. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari Pegunungan Sewu. Gunungkidul dikenal sebagai daerah tandus dan sering mengalami kekeringan di musim kemarau, namun menyimpan kekhasan sejarah yang unik, selain potensi pariwisata, budaya, maupun kuliner.

sejarah-tempat-ziarah-petilasan-di-padukuhan-wonontoro-gunungkidul

Bentuk wilayah atau fisografi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pola kehidupan sosial budaya pada masyarakat. Unsur sosial budaya merupakan salah satu instrumen penting dalam pembangunan, hal ini terkait perencanaan, sasaran, dan capaian target kinerja pembangunan. Karakteristik sosial budaya masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat tradisional yang masih memegang teguh budaya luhur warisan nenek moyang. Sehingga dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah berupaya untuk mengadopsi karakteristik sosial budaya agar dapat berimprovisasi dengan kultur masyarakat yang ada.

Masyarakat Kabupaten Gunungkidul secara umum menggunakan bahasa lokal (bahasa jawa) dalam berkomunikasi, sementara bahasa nasional (bahasa Indonesia) secara resmi dipakai dalam lingkungan formal (kantor, pendidikan, fasilitas umum, dan lain-lain). Organisasi kesenian sebagai budaya yang terus dipupuk dan dilestarikan oleh masyarakat berjumlah 1.878 organisasi, dengan tokoh pemangku adat berjumlah 144 orang. Sementara itu desa budaya yang dikembangkan oleh pemerintah untuk menunjang kesejahteraan masyarakat sebanyak 10 desa budaya, cagar budaya yang dimiliki sebanyak 5 buah serta benda cagar budaya sejumlah 692 buah yang tersebar di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Tempat Ziarah Petilasan Di Gunungkidul

Bertaburnya makam dan petilasan tokoh penting di wilayah Gunungkidul secara turun-temurun melahirkan tradisi di dalam masyarakat sekitarnya dengan tujuan untuk memberikan penghormatan kepada sang tokoh dan sebagai pengingatan akan keberadaannya. Caranya dengan menggelar ritual kenduri, doa bersama, sedhekahan, dan sejenisnya. Tempat ziarah petilasan di Gunungkidul yang pertama adalah tepatnya di Padukuhan Wonontoro, Kecamatan Karangmojo. Cerita yang dipaparkan kali ini masih terkait pelarian Majapahit. Adanya petilasan berupa makam tokoh penting di ‘sejarah’ Gunungkidul, yang menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah untuk berziarah, sebagian besar tidak lepas dari cerita pelarian Majapahit.

Di tempat-tempat seperti ini masyarakat lokal sekitar makam dan masyarakat dari luar daerah yang berkunjung sadar dan yakin bahwa petilasan atau makam tokoh cikal-bakal wilayah, keturunan kerajaan, pemimpin wilayah, atau pemuka keyakinan, merupakan tempat yang baik untuk berdoa dan berziarah karena membawa berkah dan doanya mudah dikabulkan. Makam tokoh ini begitu disakralkan dan dianggap memiliki kekuatan magis-religius sehingga masyarakat dari luar DIY bahkan luar Pulau Jawa pun datang untuk berziarah atau menggugurkan nadhar setelah permohonannya tercapai. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan peringatan meninggalnya K.A. Wonokusumo yaitu setiap Bulan Jumadil Akhir (pada hari Senin atau Kamis antara tanggal 20-25 Bulan Maret Tahun Masehi).

tradisi-madilakhiran-ziarah-makam-k-a-wonokusumo

Tradisi Madilakhiran Ziarah Makam K.A. Wonokusumo

Tempat Ziarah Petilasan Di Wonontoro Gunungkidul ini peringatannya berupa upacara, yaitu sebuah prosesi tradisi yang dinamakan Madilakhiran.  Juru kunci makam K.A. Wonokusumo saat ini ada tiga orang, yaitu: Daryanto, Karnoto, dan Ngadiyo. Ini kali pertama juru kunci makam dalam satu periode jabatan tidak hanya satu orang, tidak seperti dua periode jabatan sebelumnya. Daryanto, salah satu juru kunci yang berbincang dengan KH beberapa waktu lalu, mengisahkan awal mula K.A. Wonokusumo datang hingga menetap di wilayah Jatiayu, yang ia peroleh turun-temurun. Kedatangan K.A. Wonokusumo ke Gunungkidul bersamaan dengan waktu pelarian orang-orang dari Majapahit setelah terjadi peperangan. Beberapa tokoh yang ikut serta dalam rombongan K.A. antara lain: Ki Ageng Pandanaran (Tembayat, Klaten), Ki Ageng Giring III (Giring), dan Ki Ageng Wonokusumo II (Karangmojo).

Awalnya, K.A. Wonokusumo sempat ikut Ayahnya K.A. Giring III di Giring. Tidak selang begitu lama, dirinya bepergian ke arah timur laut hingga sampai di wilayah Karangmojo. Tempat K.A. Wonokusumo tinggal adalah Desa Gedangrejo. Di wilayah ini K.A. Wonokusumo mencoba mengumandangkan adzan. Kumandang adzanc K.A. Wonokusumo ternyata tidak nyaut, tidak terdengar dari Giring, Sodo, dan Bayat. Juru kunci Daryanto menambahkan, begitu juga dalam berkomunikasi, wilayah Gedangrejo tidak tersambung dengan wilayah Giring, Sodo, dan Bayat. Menyadari keadaan ini, K.A. Wonokusumo mencari tempat yang lebih tinggi. Sampailah beliau di Wonotoro, Jatiayu, yaitu tempat makam beliau sekarang. Dari situ lah komunikasi antara tiga wilayah, yaitu Giring, Sodo, dan Bayat dapat tersambung. Diceritakan kemudian, beliau adalah pemuka agama dan pemimpin di wilayah tersebut.

Kisah K.A. Wonokusumo

Dalam perjalanan hidupnya, K.A. Wonokusumo sempat merasakan masa penjajahan Belanda. Beliau dianggap sebagai musuh yang membahayakan pihak Belanda. Saat itu, saat orang-orang Belanda mencari keberadaannya, beliau disembunyikan oleh sembilan sahabatnya. Sembilan sahabat itu bernama; Eyang Joyo Lelono, Eyang Joyo Prakoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Eyang Tiyoso, Ny Resemi, dan Nyi Joimanuk. Para sahabat menjawab pertanyaan pihak Belanda bahwa K.A Wonokusumo sudah meninggal. Saat ditanya mengenai kapan terjadinya peristiwa ini, juru kunci menjawab bahwa waktu meninggalnya K.A. Wonokusumo  dihubungkan dengan jawaban kesembilan sahabat tersebut. Kemudian dilestarikan oleh masyarakat sekitar hingga kini sebagai bentuk peringatan, bernama Madilakhiran.Makam kesembilan sahabat K.A. Wonokusumo  berada di tiga bangunan yang disebut lintring, yang berada di sekitar bangunan utama makam, yaitu joglo yang menjadi letak batu nisan K.A Wonokusumo.

Berdasar cerita juru kunci terdahulu, sebelum diganti dengan batu, nisan K.A. Wonokusumo yang asli ketika pertama kali ditemukan oleh warga berupa kayu. Nisan kayu yang diganti dengan batu lantas ditaruh di atas gebyok (penutup nisan berbahan kayu berbentuk balok). Gebyok berukuran 3m x 3m x 1,5m dan berpintu satu telah ada sejak pertama kali keberadaan makam diketahui oleh warga. Bangunan Joglo sebagai pelindung (rumah) makam itu pernah direhab oleh panitia Madilakiran. Sebelumnya atap joglo berasal dari kayu atau disebut sirap, lantas diganti genteng semen. Waktu itu pembiayaan rehab joglo selain diupayakan bersama panitia peringatan juga mendapat dukungan dari para peziarah.

Joglo tempat makam K.A Wonokusumo ini berbeda dengan tempat tinggal pada umumnya. Selain berukuran tidak begitu luas, tinggi tiangnya hanya 1,25 meter, sedangkan atap tengah memiliki tinggi 3 meter. Dalam perkembangannya, para peziarah yang merasa doa dan keinginannya terkabul lantas ikut membantu perehaban dan perawatan bangunan, berupa perbaikan lantai, eternit, cat dan lainnya. Ada juragan sapi yang ikut membantu perehaban joglo, membangun lintring, serta cerobong asap tempat pembakaran kemenyan, yaitu warga berkebangsaan Cina. Pengembangan pembangunan di sekitar makam sebagian besar dibiayai para peziarah. Adanya makam K.A Wonokusumo dan para sahabatnya itu menjadikan area sekitar makam menjadi pemakaman umum.

Hal lain yang terkait dengan cerita K.A. Wonokusumo adalah tokoh ini menyukai kesenian terbangan. Diyakini oleh masyarakat, saat sebuah kelompok seni terbangan sedang mengadakan latihan, beliau datang untuk melihat, namun hanya juru kunci yang pertama saja yang dapat mengetahui dan berkomunikasi dengan beliau. Diceritakan pula, dulu ketika Sultan Hamengku Buwana IX memerintah, gambaran keluhuran Kraton Yogya yang ditandai dengan wujud pancaran sinar-sinar cahaya dari berbagai pelosok yang menuju kraton pada saat hari jumat, pancaran sinar dari makam K.A. Wonokusumo lah yang paling terang, paling kuat, atau malah bisa dikatakan satu-satunya tempat yang memancarkan cahaya dibanding makam/petilasan pepundhen kraton yang lain.

Tradisi Upacara Jumadilakhiran

Meskipun hari meninggalnya K.A Wonokusumo bukan merupakan hari sesungguhnya, karena peristiwa kematian K.A Wonokusumo hanya kabar yang disampaikan oleh para sahabatnya untuk mengelabuhi pihak Belanda, namun sebagai bentuk peringatan, masyarakat mengadakan tradisi jumadilakhiran. Tradisi jumadilakhiran atau sering diucapkan madilakhiran masih lestari, berjalan sejak puluhan tahun silam hingga saat ini. Jumadilakhiran dilaksanakan pada setiap Bulan Jumadil Akhir. Puncaknya pada hari Senin atau Kamis antara tanggal 20-25 Bulan Maret Tahun Masehi. Selama hampir sebulan sebelum hari H, masyarakat serta peziarah dari berbagai kota bahkan dari Sumatra dan Kalimantan, telah datang di lokasi untuk ikut merayakan. Para peziarah yang datang biasanya memiliki hajat. Ada yang hajatnya telah terkabul dan pada peringatan berikutnya tetap datang. Ada yang datang untuk berdoa demi sebuah hajat.

Yang hajatnya terkabulkan atau belum, mereka ikut menyumbang. Daryanto bertutur, “Yang pernah sambat-sebut atau mengucapkan nadhar dan akan menyumbangkan sesuatu saat madilakhiran, maka mereka datang memenuhi janjinya. Janji itu semisal: menyembelih sapi, kambing, ayam, atau menyumbangkan kebutuhan masak yang lain. Doa dan permohonan para peziarah mengenai berbagai hal, misalnya mengenai usaha dagang, jodoh, pekerjaan, pendidikan, sakit, naik pangkat, dan lainnya”. Macam-macam nadhar itu, Daryato mencontohkan, bisa berupa: setelah sembuh dari sakit akan menyembelih sapi saat madilakhiran dilaksanakan; jika diterima bekerja akan menyembelih ayam; jika usaha dagangnya laris akan menyembelih kambing; dan seterusnya. Semua itu dilakukan sebagai wujud syukur para peziarah.

Para peziarah lokal maupun peziarah dari berbagai kota seperti Jakarta, Bali, Mojokerto, Tulungagung, Surabaya, Solo, Klaten, serta Kalimantan dan Sumatra, berkelompok berjumlah 20 hingga 30-an orang. Mereka berkelompok, berada di rumah-rumah warga di tiga padhukuhan, yakni Wonotoro, Warung, dan Banjardowo, bergabung dengan warga dari bebagai kota yang jumlah keseluruhannya mencapai 500-an orang. Warga tiga padukuhan ini memang masih melestarikan tradisi madilakhiran: Padukuhan Wonotoro ada 170 warga, Banjardowo ada 100-an KK, sedangkan Padukuhan Warung sekitar 130-an KK. Mereka melaksanakan nyadran: menyembelih dan memasak apa yang di sumbangkan oleh peziarah. Saat memasak tidak diperkenankan untuk mencicipi makanan. Tetapi anehnya, makanan yang telah dimasak selalu saja ‘pas’ bumbunya.

Setelah makanan masak lalu dikendurikan, dibagi ke sekitar, dan dimakan bersama. Setelah itu mereka mendatangi Makam K.A Wonokusumo bersama juru kunci untuk berdoa, menyampaikan maksud (hajat), atau mengucap syukur telah melunasi nadhar. Karena kegiatan madilakhiran ini sudah diakui oleh pemerintah sebagai tradisi kebudayaan dan even wisata, maka pada setiap dilaksanakannya tradisi madilakhiran setiap tahun dihadiri pihak-pihak terkait, seperti: dari Kraton Yogyakarta, Disbudpar, Pemkab, Kodim, Polres, Muspika, pihak desa, tokoh, dan tamu undangan lain. Prosesi madilakhiran atau wilujengan K.A. Wonokusumo sebagai even budaya berupa kegiatan syukuran dengan kendhuri bersama.

Setelah kendhuri usai, masakan dihidangkan untuk disantap bersama. Demi mendukung prosesi madilakhiran atau wilujengan K.A. Wonokusumo ini, Disbudpar Gunungkidul membangun sebuah joglo di sebelah barat makam. Tujuannya agar bisa digunakan untuk prosesi acara tiap tahunnya, yang sering dihadiri oleh peziarah dari kota-kota yang jauh. Karena kota asalnya yang jauh, terkadang para peziarah harus menginap sebelum pulang. Ada keyakinan, jika ada peziarah yang hadir di acara ini dapat membawa pulang bunga tabor, sekaligus membawa pulang air sendang Panti Tirta Jaya yang berada di sebelah barat makam, yang debit kucuran airnya selalu saja tetap meski kemarau atau hujan deras, maka permohonannya akan terkabul.

Tempat Ziarah Petilasan Di Wonontoro Gunungkidul ini menyita perhatian dari berbagai kalangan. Tradisi upacara di tempat ziarah petilasan di Wonontoro Gunungkidul ini sebagai rasa syukur yang diadakan oleh tiga dusun yang ada di desa Gedangrejo yakni, dusun Warung, Banjardowo dan Wonotoro. Sebab warga setempat telah diberikan yang kuasa atas nikmat baik keselamatan, ketentaman, kedamaian dan rejeki selama ini. Wujud rasa syukur ini pada tanggal 4 April 2016 lalu, dihadiri oleh masyarakat di tiga dusun, tamu undangan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul, Muspika Karangmojo, Kapolsek serta Danramil.

Acara Madilakiran Wilujengan Ki Ageng wonokusumo ini memberikan persembahan dengan menyembelih ayam jago 150 ekor yang di buat ingkung serta hasil pertanian meliputi nasi uduk, sayuran. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini ke depan hasil panen melipah dan doa yang dikabulkan masyarakat selama ini terkabulkan. Manusia tidak akan pernah terpisahkan dengan kebudayaan, karena manusia tidak akan pernah  mampu hidup sendiri, dan terpisah dari kehidupan dimasyarakat. Kebudayaan hadir beriring dengan kebudayaan manusia. Oleh karena itu manusia pasti berbudaya, karena kebudayaan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tidak jarang terjadi konflik batin, karena posisi seseorang individu sebagai makhluk tunggal dan sosial. Bagaimanapun seorang individu memiliki kepentingan-kepentingan individunya. Namun, sebagai anggota masyarakat ia juga dituntut untuk mengikuti peraturan apa yang ada di dalam masyarakat. Sehingga dibutuhkan keseimbangan secara kosmis, artinya hubungan yang harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan secara vertikal dan horisontal. Hubungan horisontal yaitu hubungan kemasyarakatan, sedangkan hubungngan vertikal diartikan sebagai hubungan dengan dunia adikrodati yang transdental.

Agama memang telah masuk di daerah Gunungkidul ini. Pada kenyataanya penduduk setempat memang bisa menerima tersebut. Namun, tidak begitu saja kepercayaan yang mereka puja dan mereka pegang teguh sebelum agama masuk ke daerah mereka tidak begitu saja dapat ditinggalkan. Yang terjadi kemudian adalah berjalannya kedua unsur tersebut, religi dan tradisi. Antara kedua unsur tersebut memang tidak selamanya berjalan dengan baik, tetapi terkadang berbenturan diantara keduanya.sesuai dengan teori pascamodern yang muncul “dari bawah dan pinggiran” yaitu “agama-agama rakyat.

Pada realitasnya hampir seratus persen masyarakat Gunungkidul ini memang telah beragama. Namun, kepercayaan atau adat Jawa dari nenek moyang masih melekat pada masyarakat di Gunugkidul ini. Masyarakat Gunungkidul ditinjau dari segi geografisnya memang terletak dalam suatu wilayah yang memungkinkan adanya isolasi kemodernan. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakatnya masih memegang teguh adat dan kepercayaan baik animisme dan dinamisme. Demikian ulasan tentang tradisi budaya tempat ziarah petilasan di wonontoro Gunungkidul. Semoga bermanfaat bagi anda semua. Dan semoga bisa menjadi referensi bagi anda yang ingin menyaksikan sendiri bagaimana upacara adat ini berlangsung.

Artikel terkait Sejarah Tempat Ziarah Petilasan Di Padukuhan Wonontoro Gunungkidul