lklan-728x90
Menu

Mengenang Jaman Gaber, Masa Paceklik Dan Sulit Pangan Di Gunungkidul

05/05/2016 | Ekonomi, Seni Budaya

Jaman Gaber, Begitulah biasa Bapak, Pakde, Paklik dan juga saudara2 kami mengenal jaman suram di Kabupaten Gunungkidul. Jaman Gaber merupakan jaman sulit makan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1963. Bagi warga Gunungkidul yang pada tahun itu sudah cukup umur untuk merasakan sulitnya pangan tidak akan pernah lupa.

Sebenarnya gaber adalah sebutan untuk ampas tepung tapioca atau bungkil ketela pohon yang dikeringkan. Sekarang gaber dipakai untuk campuran makanan ternak. Gaber menjadi bahan pangan pokok saat terjadi krisis pangan di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta tahun 1963. Sehingga dikenal Jaman Gaber.

Mengenang Jaman Gaber, Masa Paceklik Dan Sulit Pangan Di Gunungkidul

Kondisi Saat Jaman Gaber Di Gunungkidul

Jaman gaber terjadi dimana makan sangat susah, bahkan tidak sedikit di daerah Gunungkidul ini yang mati kelaparan, menukarkan tanah demi beberapa karung Gaplek. Jaman yang penuh penderitaan dan juga jaman dimana makanan adalah hal yang sangat susah. Nasi Putih dan Tempe adalah makanan yang sangat langka dan susah didapat.

Simbah-simbah pernah bercerita kalau makan Nasi Putih dengan lauk Tempe hanya bisa dilakukan pada waktu Lebaran dan terkadang pada waktu Rasulan (Saat itu masih ada Rasulan). Sehari hari mereka bertahan hidup dari Ampas Ketela yang sudah diambil sari patinya. Untuk lauknya, warga2 Gunungkidul mengandalkan daun Petai China/Manding yang masih Muda, di rebus dan dijadikan lalapan.

Mengapa Bisa Terjadi Jaman Gaber

Posisi Indonesia dalam hal pangan sudah sangat memprihatinkan. Laju penyediaan pangan utama tidak bisa mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Besar dan macam jumlah impor pangan sudah memasuki ke dalam fase mendekati kehilangan kedaulatan pangan. Bahkan beberapa referensi mengatakan, ibarat penyakit kondisinya sudah memasuki stadium empat.

Kebanyakan orang sepertinya tidak pernah merasakan bagaimana memproduksi bahan pangan itu memerlukan proses panjang. Kebijakan pangan harga murah mempunyai implikasi negative pada masyarakat banyak yang terkesan tidak menghargai proses produksi pangan. Untuk generasi sekarang yang tidak pernah mengalami jaman gaber, mungkin tidak pernah merasakan makan gaber dan bulgur. Kalau gaber adalah ampas tepung tapioka atau bungkil ketela pohon yang dikeringkan. Bulgur berasal dari jagung kering yang di pecah-pecah kecil. Bulgur merupakan bantuan Amerika saat krisi pangan di Gunungkidul. Di Amerika bulgur untuk makanan ternak.

Beras menjadi barang sangat langka dan susah didapat. Banyak orang tidak bisa membeli beras karena kalau ada harganyua mahal sekali. Orang-orang desa yang kekurangan pangan pada pergi ke kota Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunungkidul. Untuk cari kerja buat makan. Karena peluang kerja juga susah, sebagian juga karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Berawal dari penjualan satu persatu barang berharga miliknya. Dimulai dari hewan ternak, kandang ternak, pintu dan jendela rumah, genteng rumah, kayu-kayu penopang rumah, sampai semua rumah habis dijual hanya untuk makan. Setelah itu pergi ke kota Wonosari mengais- ngais makanan. Sasarannya tentu saja pasar Wonosari. Sekarang namanya pasar Argosari.

Jaman gaber terjadi sebenarnya bukanlah karena wilayah Gunungkidul yang tandus atau curah hujan kurang. Wilayah tandus di Gunungkidul hanya terbentang di sepanjang pantai selatan. Daerah utara yang membentang dari barat sampai ke timur adalah tanah subur dengan kedalaman top soil yang masih lebar, lebih satu meter. Curah hujan setiap tahun juga masih normal, sekitar 3000 mm. Yang memicu terjadinya susah pangan adalah lebih karena hama tikus yang menggila   memakan semua hasil panen. Obat-obatan hama tikus tidak ada waktu itu. Terjadilah bencana bencana kelaparan.

Orang mungkin bertanya tanya. Mengapa jaman gaber bisa cepat berlalu? Apakah kerja pemerintah begitu hebat waktu itu? Tanpa mengesampingkan kinerja pemerintah dalam mengatasi jaman gaber waktu itu, teratasinya jaman gaber lebih terbantu karena factor alam tropis. Hama tikus hilang dengan sendirinya karena mati kurang pangan. Seperti juga manusia. Begitu tikus berangsur hilang dan musim hujan tetap berlangsung, hamparan lahan tumbuh dengan cepat tanaman jawud dan canthel. Jawud sekarang untuk makanan burung. Tanaman canthel sejenis dengan tanaman jagung. Kedua tanaman ini menjadi sumber makanan alternatif. Berangsur angsur bencana kelaparan teratasi. Dari mana tanaman jawut dan cathel itu. Tidak ada yang aneh sebenarnya. Itulah kehebatan sumberdaya alam tropis basah munsonal.

 

Artikel terkait Mengenang Jaman Gaber, Masa Paceklik Dan Sulit Pangan Di Gunungkidul