lklan-728x90
Menu

Koleksi Dan Sejarah Penerbangan Di Museum Dirgantara Yogyakarta

Museum Dirgantara Yogyakarta –  Salah satu kota tujuan wisata yang ada di Indonesia paling populer yaitu Yogyakarta. Obyek wisata yang ada di Jogja tak kalah menarik dengan yang ada di Bandung ataupun Pulau dewata Bali. Selain sebagai tujuan wisata, kota ini juga dijuluki sebagai kota pelajar karena berbagai macam perguruan tinggi terletak di Yogyakarta. Tempat wisata di Jogja yang biasa direkomendasikan orang-orang biasanya tak jauh-jauh dari candi Prambanan, Pantai Parangtritis dan sekitarnya. Sebagai Kota Pariwisata, pesona keistimewaan Jogja memang berpusat di titk-titik yang selalu ramai pengunjung itu. Kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya mempunyai beberapa museum yang meyimpan benda peninggalan sejarah dan budaya serta sumber ilmu pengetahuan.

koleksi-dan-sejarah-penerbangan-di-museum-dirgantara-yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta, atau biasa disebut Yogya atau Jogja, merupakan provinsi yang memiliki keistimewaan dari sisi sejarah, budaya dan bahkan sistem pemerintahannya. Wilayahnya dulunya adalah bekas Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Inilah yang membuat Yogyakarta berjuluk episentrum budaya Jawa. Kekayaan sejarah dan budaya Yogyakarta menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi wisatawan. Yogya tak pernah sepi peminat. Kota dengan pesona keramahan penduduknya memang tidak salah jika dijadikan sebagai tempat tujuan backpacking.

Aura senyum yang terpancar di antara hiruk-pikuk kota yang dijuluki kota Gudeg ini menjadi magnet yang tidak bisa dihindarkan. Selain apa-apa serba murah, tentu Jogja juga menyimpan banyak cerita sejarah yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Menarik untuk dikulik dan memberikan pengalaman seru tersendiri, apalagi cerita-cerita yang ada dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Selain menikmati berbagai pagelaran seni budaya, wisata candi, anda juga bisa mengunjungi museum-museum yang bertebaran di saentaro Yogyakarta.

Museum Dirgantara Yogyakarta

Backpacking memang seru, meskipun dilakukan sendirian. Dengan membawa uang yang minim, tas ransel menggantung di punggung, dan membiarkan ke mana pun langkah kaki akan membawamu, harapan tentang sesuatu yang baru menggantung di depan mata. Namun, apa jadinya jika tempat tujuan backpacking-mu adalah museum? Di mana museum jarang menjadi tujuan wisata, terlebih untuk para backpacker. Tapi jangan salah, ternyata beberapa museum di Jogja ini menawarkan pengalaman baru backpacking yang tak terduga. Selain koleksi benda-benda unik yang dimiliki, museum dengan gaya arsitektur bangunan yang klasik atau kuno dapat menjadi background menarik untuk berfoto.

Yogyakarta masih ada lagi tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh para penelusur terutama untuk anak-anak. Tempat wisata ini adalah Museum Dirgantara. Museum Dirgantara terletak di ujung utara Kabupaten Bantul dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman tepatnya di area komplek Pangkalan Udara TNI-AU Adisucipto Yogyakarta. Walaupun letaknya yang tersembunyi namun akses jalan untuk ke museum dirgantara sangatlah mudah karena hanya berjarak sekitar kurang lebih 200 meter dari ringroad timur atau tepatnya Janti. Jalan ini sendiri sangat ramai sekali dilalui oleh berbagai kendaraan baik umum maupun kendaraan pribadi. Sesuai dengan namanya yaitu Museum Dirgantara Yogyakarta.

Koleksi Sejarah Museum Dirgantara Yogyakarta

Museum ini menyimpan koleksi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan kedirgantaraan. Tapi, bukan hanya benda-benda berukuran kecil saja yang tersimpan disana. Di dalam museum tersebut tersimpan banyak pesawat yang tentunya sangat menarik untuk diamati. Museum Dirgantara Mandala merupakan museum yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara dan menyajikan secara lengkap tentang sejarah penerbangan dan dunia aviasi di Indonesia. Di museum ini wisatawan bisa menyaksikan beragam koleksi alutista dan pesawat mulai dari pesawat sipil, pesawat tempur, hingga rudal TNI AU.

Sebagai basecamp sekaligus kota kelahiran TNI AURI, Yogyakarta memiliki sebuah museum dengan koleksi kedirgantaraan yang paling lengkap di Indonesia. Museum tersebut adalah Museum Dirgantara Mandala. Beragam pesawat yang memiliki peranan penting dan pernah berjasa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia disimpan di museum ini. Karena itu, Museum Dirgantara merupakan salah satu tempat yang wajib Anda datangi saat berkunjung ke Yogyakarta. Berada satu lokasi dengan kompleks perumahan, perkantoran, dan pusat pendidikan TNI AU, Museum Dirgantara memiliki halaman berumput hijau yang sangat luas dan sejuk. Dulunya Museum Pusat TNI AU ini berlokasi di Jakarta, namun mengingat bahwa Yogyakarta adalah tempat kelahiran TNI AU maka museum pun dipindah ke kompleks Lanud Adisutjipto.

Museum TNI AU memiliki lebih dari 10.000 koleksi komponen alutsista dan 40 pesawat terbang dari negara barat sampai timur, serta terdapat koleksi berupa diorama-diorama, foto-foto, lukisan-lukisan, tanda-tanda kehormatan, dan lain-lain yang disusun dan ditata berdasar kronologi peristiwa. Koleksi pesawat antara lain, pesawat WEL RI X merupakan produksi pertama bangsa Indonesia yang dibuat pada tahun 1948 oleh Biro Rencana dan Konstruksi, Seksi Percobaan Pembuatan Pesawat Terbang, Magetan, Madiun, dibawah pimpinan Opsir Udara III (Kapten) Wiweko Supomo.Pesawat ini memakai mesin Harley Davidson 2 Silinder model tahun 1928.

Pesawat Pembom Guntai direbut dari Jepang saat Belanda melancarkan aksi blokade terhadap dirgantara Indonesia, pesawat buatan tahun 1930 ini dengan penerbangnya Kadet Mulyono melaksanakan pemboman terhadap kedudukan lawan di Semarang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat Jet Star merupakan pesawat kepresidenan hadiah dari pemerintah Amerika Serikat kepada Presiden RI Soekarno, pernah digunakan dalam kunjungan ke beberapa negara antara lain Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Thailand. Berbagai jenis pesawat pemburu, latih, dan angkut periode 1950-1965. Diorama Sekbang I Taloa, Amerika Serikat, Sekbang India, Sekbang Andir, dan Sekolah Perwira Teknik Udara.

koleksi-dan-sejarah-penerbangan-di-museum-dirgantara-yogyakarta

Mengunjungi Museum Dirgantara Yogyakarta

Mengunjungi Museum Dirgantara Yogyakarta adalah hal yang sangat menarik. Pengunjung dapat melihat koleksi lengkap kedirgantaraan di Indonesia serta menyaksikan betapa pemberaninya pilot-pilot Indonesia pada zaman perjuangan kemerdekaan. Di museum ini terdapat 38 koleksi pesawat, baik pesawat tempur maupun pesawat sipil. Beberapa pesawat yang memiliki nilai sejarah tinggi antara lain replika pesawat Dakota VT-CLA milik perusahaan penerbangan India yang ditembak jatuh oleh Belanda di Ngoto saat hendak mendarat di Maguwo, pesawat Guntei bersayap ganda bekas tentara Jepang yang digunakan untuk melakukan pengeboman pertama dalam sejarah TNI AU, serta koleksi pesawat Mustang yang digunakan untuk menggempur Permesta.

Hal yang menyenangkan lainnya saat mengunjung Museum Dirgantara selain menyaksikan aneka koleksinya yang menarik, wisatawan juga bisa naik ke beberapa pesawat yang memang diijinkan untuk dinaiki. Bahkan wisatawan juga bisa menyewa pakaian pilot dan bergaya di dalam pesawat laksana pilot sungguhan. Di museum ini juga terdapat wahana simulasi menerbangkan pesawat. Selain koleksi pesawat, di museum yang gedungnya dibagi menjadi 6 ruang ini pengunjung juga bisa menyaksikan koleksi lainnya. Di tempat ini terdapat koleksi foto, lukisan, tanda kehormatan, pakaian dinas, buku, senjata api, senjata tajam, mesim pesawat, radar, bom atau roket, parasut, hingga diorama yang disusun berdasarkan kronologi peristiwa. Salah satu koleksi menarik adalah diorama Satelit Palapa dan pesawat ruang angkasa Challenger yang mengorbitkan pesawat tersebut.

Sejarah Museum Dirgantara Yogyakarta

Museum Dirgantara sejarahnya berasal dari penggabungan dua Museum yakni Museum Pusat AURI yang didirikan 1967 di Jakarta dan Museum Pendidikan atau Taruna yang sudah ada di komplek pendidikan AKABRI Bagian Udara Jogja. Pada 1977 keduanya kemudian digabungkan. Dalam museum ini, para penelusur dapat menyaksikan pesawat-pesawat dan benda sejarah dalam perjuangan TNI Angkatan Udara, sejak perang kemerdekaan sampai saat ini. Selain itu bisa dilihat pula diorama dari satelit Palapa dan kapal ruang angkasa Challenger, yang mengorbitkan satelit tersebut.

Museum TNI AU diresmikan pada tanggal 4 April 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Nuryadin berkedudukan di Makowilu V Tanah Abang Bukit, Jakarta. Dengan pertimbangan antara lain bahwa Yogyakarta merupakan tempat lahir dan pusat perjuangan TNI AU periode 1945-1949 serta tempat penggodokan Karbol AAU, maka pada bulan November 1977 Museum AURI di Jakarta dipindahkan dan diintegrasikan dengan Museum di Ksatrian AAU di Pangkalan Adisutjipto, Yogyakarta, dan tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Mengingat semakin bertambahnya koleksi, maka pada tahun 1984 Museum dipindahkan ke Wonocatur menempati sebuah gedung bersejarah. Gedung tersebut semasa penjajahan Belanda adalah sebuah pabrik gula dan pada waktu pendudukan Jepang digunakan sebagai Depo Logistik. Pada bulan Oktober 1945 BKR dan para pejuang kemerdekaan berhasil merebut Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Lanud Adisutjipto) dari tangan Jepang, termasuk segala unsur logistik dan fasilitasnya yang kemudian digunakan sebagai unsur kekuatan awal TNI Angkatan Udara.

Museum ini menyajikan secara lengkap sejarah penerbangan dan dunia aviasi di Indonesia. Bangunan museum, semula merupakan pabrik gula, kemudian beralih fungsi menjadi hanggar pesawat tempur dan pesawat angkut yang pernah dimiliki TNI Angkatan Udara. Pada awalnya museum ini berada di Jakarta, namun karena Yogyakarta merupakan kota kelahiran TNI AU, maka dipindahlah museum ini. Apabila berkunjung, Anda akan melihat beragam pesawat hebat di masanya. Anda pun diperkenankan untuk berfoto di pesawat bahkan mengenakan pakaian penerbang, bergaya bak pilot pesawat tempur di pesawat sungguhan koleksi museum.

Manfaat Berkunjung Museum Dirgantara

Membuat kita tidak melupakan sejarah. Museum yang didirikan pada tanggal 4 April 1969 di jalan Tanah Abang, Bukit, Jakarta oleh Panglima Angkatan Udara Laksmana Udara Rusmin Nuryadin. Bulan November 1977 dipindahkan dan digabungkan dengan Museum Ksatrian AAU (Akademi Angkatan Udara) di pangkalan Adisucipto Yogyakarta. Pada tanggal 29 Juli 1978 diresmikan sebagai Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Selain itu anda juga bisa melihat pesawat terbang dari dekat. Saat ini, museum ini memiliki koleksi sejumlah 10.000 buah, 36 pesawat terbang, 1.000 foto, 28 diorama, lukisan-lukisan, tanda kehormatan, pakaian dinas, dan sejumlah koleksi buku yang disimpan di perpustakaan. Koleksi masterpiece adalah repliKa pesawat Dakota VT-CLA milik perusahaan penerbangan India yang ditembak jatuh di daerah Ngoto, bantul oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta.

Museum Dirgantara gedungnya di bagi menjadi beberapa ruangan yaitu:

  • Ruang Utama yang berisi pajangan foto-foto mantan petinggi-petinggi angkatan udara.
  • Ruang Kronologi I dan II disini para penelusur dapat melihat-lihat diorama sejarah dan dokumen-dokumen semasa proklamasi kemerdekaan RI 1945.
  • Ruang Alutsista di ruangan ini para penelusur dapat melihat-lihat peralatan tempur TNI-AU yang digunakan sewaktu tempur melawan penjajah pada jaman dahulu.
  • Ruang Diorama diiruang ini terdapat beberapa diorama diantaranya yaitu diorama penerbangan pertama pesawat merah putih, diorama peristiwa 29 juli 1947, diorama setelah penerbangan pertama, diorama Trikora, Diorama Satelit (SKSD) Palapa.

Lokasi Dan Harga Tiket

Museum Dirgantara Mandala terletak di dalam kompleks TNI Angkatan Udara Republik Indonesia, Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Meskipun lokasinya agak tersebunyi, wisatawan bisa menemukan museum ini dengan mudah. Dari fly over janti silahkan menuju Ring Road Timur, sesampainya di depan SMA Angkasa belok ke kiri. Jika naik bis kota wisatawan bisa turun di SMA Angkasa dan jalan kaki sekitar 200 meter menuju museum.

Semua Ini tentunya akan dapat menjadi pengalaman yang tak terlupakan, khususnya bagi anak-anak. Namun para penelusur nggak perlu khawatir karena biaya tambahan yang harus dibayarkan tidaklah mahal, hanya Rp. 1000,- saja. Museum Dirgantara  ini dibuka untuk umum setiap hari mulai dari pukul 08.30 sampai dengan pukul 15.00 WIB.Tetapi pada hari Senin dan hari libur nasional Museum Dirgantaraini tutup. Di Museum Dirgantara harga tiket masuknya tidaklah mahal karena hanya Rp. 3000,- saja per orang. Para penelusur yang datang dalam rombongan yang terdiri dari 30 orang atau lebih tentunya akan mendapatkan potongan harga , menjadi Rp. 2000,- saja per orang.

Taman Pintar Yogyakarta

Selain berkunjung ke museum Dirgantara Yogyakarta, anda bisa mengunjungi Taman Pintar Yogyakarta bersama dengan anak anak anda. Taman Pintar Yogyakarta (TPY ) adalah salah satu wisata pendidikan atau wisata edukasi paling banyak di kunjungi di Yogyakarta.  Rasanya belum lengkap bila mengunjungi kota Yogyakarta tidak menyempatkan diri bermain ke Taman Pintar  Yogyakarta bersama keluarga dan anak-anak. Pada bangunannya menampilkan nuansa modern dan tradisional yang mempunyai keindahan tersendiri. Taman ini menawarkan wahana belajar dan rekreasi yang cukup lengkap untuk anak-anak, baik usia pra sekolah sampai tingkat sekolah menengah. Pada rentang usia tersebut merupakan generasi penerus yang potensial mendapat pencerahan belajar ilmu dann tekhnologi (iptek).

Terbentuknya taman pintar Yogyakarta  semacam ini sebelumnya terinspirasi dari berdirinya pusar peragaan iptek yang sudah ada sebelumnya yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta yang selanjutnya menjadi contoh untuk pengembangan di daerah lain. Di Yogyakarta dengan Taman Pintarnya, dan di Jawa Timur dengan Jawa Timur Parknya dan semoga segera menyusul daerah lain untuk membangun tempat wisata berorientasi pendidikan untuk anak-anak. Taman Pintar dibangun mulai bulan Mei 2006 dan setahun kemudian pada tanggal 9 Juni 2007 diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X bersama dua menteri yaitu Menteri Riset dan Tekhnologi ( Menristek ), Kusmayanto Kadiman, P.h.D dan menteri Pendidikan Nasional ( Mendiknas ), Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA.

Taman ini menawarkan model edukasi atau pembelajaran yang memadukan konsep pendidikan dan permainan dengan media yang menarik sehingga dapat merangsang keingintahuan anak dan memancing kreativitas anak terhadap iptek. Maskot Taman Pintar yang berupa “ Burung Hantu Memakai Blangkon“. Burung hantu diartikan sebagai burung yang memiliki kepekaan yang tinggi, sanggup merasakan dan mempelajari keadaan alam dan lingkungan yang ada disekitarnya. Sedangkan Blangkon merupakan pakaian adat Yogyakarta untuk menutup kepala laki-laki.

Taman Pintar ini berisi materi yang terbagi menurut kelompok usia dan penekanan materi. Untuk kelompok usia dibagi lagi menjadi tingkat pra sekolah, taman kanak-kanak, sekolah dasar sampai sekolah menegah. Sedangkan untuk penekanan materinya disampaikan dalam bentuk interaksi antara pengunjung dengan materi yang disampaikan melalui bentuk anjungan yang ada seperti : anjungan pengenalan, anjungan pengenalan ilmu-ilmu dasar, anjungan permainan dan anjungan penerapan iptek.

Artikel terkait Koleksi Dan Sejarah Penerbangan Di Museum Dirgantara Yogyakarta