lklan-728x90
Menu

Kisah Petilasan Keramat Di Yogyakarta Paling Sakral

24/09/2016 | Seni Budaya

Petilasan Keramat Di Yogyakarta Paling Sakral – Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan bekas (Negara) Kesultanan Yogyakarta dan [Negara] Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Walaupun memiliki luas terkecil ke dua setelah Provinsi DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional dan internasional. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali.  DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang fisik maupun yang non fisik. Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya dan benda cagar budaya.

Sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat. DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat tradisi. Selain itu, Provinsi DIY juga mempunyai 30 museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional.

kisah-petilasan-keramat-di-yogyakarta-paling-sakral

Menghormati leluhur menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Walau telah lama meninggalkan alam dunia, namun masyarakat meyakini arwah orang yang telah meninggal tetap berada di bumi ini hingga nanti akhirnya bernar-benar menghadap Sang Pencipta. Masyarakat juga meyakini suatu makam akan memiliki kekuatan gaib sesuai dengan jasad yang dikebumikan di dalamnya. Tak heran jika kemudian banyak kuburan dikeramatkan warga hingga mereka berbondong-bondong untuk melakukan ziarah di tempat itu. Berikut beberapa makam di DIY yang dianggap keramat oleh masyarakat.

Makam Pajimatan Girirejo Imogiri

Petilasan Keramat Di Yogyakarta Paling Sakral diantaranya adalah makam Imogiri. Makam Imogiri Yogyakarta merupakan makam raja-raja Mataram terletak di perbukitan Imogri Bantul. Makam Raja ini merupakan bukit yang dapat dilalui dengan menaiki anak tangga berjumlah sekitar 409. Makam ini memang diperuntukkan untuk makam raja dan kerabat kerajaan Mataram Islam beserta keturunannya. Permakaman ini dianggap suci dan kramat karena yang dimakamkan disini merupakan raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Permakaman Imogiri merupakan salah satu objek wisata di Bantul. Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. Masyarakat jawa meyakini, bahwa gunung atau bukit dapat menyimbolkan status sekaligus merupakan upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Memilih perbukitan yang dinamai Pajimatan Girirejo untuk membangun makam raja ternyata mempunyai cerita sejarah sebelumnya. Menurut masyarakat setempat, sewaktu Sultan Agung sedang mencari tanah yang akan digunakan untuk tempat pemakaman khusus sultan dan keluarganya, beliau melemparkan segenggap pasir dari Arab. Pasir tersebut dilempar jauh hingga akhirnya mendarat di perbukitan Imogiri. Atas dasar itulah selanjutnya Sultan Agung menentukan membangun makam raja di Imogiri. Pada tahun 1632 M, kompleks makam Imogiri mulai dibangun oleh arsitek yang bernama Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo atas perintah dari Sultan Agung. Selang 13 tahun kemudian pada tahun 1645 Sultan Agung wafat dan dimakamkan di Imogiri.

Sejarah Pemakaman Imogiri

Sultan Agung merupakan raja ketiga Mataram setelah Penembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak. Mataram mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung karena mampu menguasai hampir seluruh tanah Jawa. Pada masa pemerintahannya, beliau memberikan perlawanan kepada penjajah Belanda. Pada tahun 1628 dan 1629 pasukan Mataram pernah menyerang markas VOC di Batavia walaupun sering gagal. Kegagalan ini menurut cerita karena adanya punggawa dari Mataram yang sebelumnya membocorkan rencana penyerangan tersebut. Punggawa Mataram tersebut menurut cerita adalah Tumenggung Endranata yang juga dikuburkan di Makam Imogiri.

Karena adanya seorang penghianat tersebut, tempat-tempat logistik berupa lumbung-lumbung padi sebagai tempat persiapan perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia dibakar oleh Belanda yang berakibat pasukan Mataram dapat dengan mudah dikalahkan. Sultan Agung akhirnya mengetahui ada salah satu pasukannya yang berkhianat. Sultan Agung selanjutnya mengambil tindakan tegas dengan menangkap dan menghukum mati Tumenggung Endranata. Kepala penghianat tersebut dipenggal dan selanjutnya tubuh tanpa kepala tersebut ditanam di salah satu tangga dibawah pintu gerbang makam.

Secara resmi, makam Imogiri memiliki nama resmi seperti yang terdapat di gapura, yaitu Pasareyan Dalem Para nata Pajimatan Girirejo Imogiri. Intinya bahwa di tempat ini terdapat makam para Raja Kasultanan Mataram Islam. Kerajaan Mataram Islam adalah cikal bakal Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang sampai saat ini masih berdiri. Kerajaan Mataram didirikan oleh Panembahan Senopati. Makam Imogiri ini sampai saat ini dibuka untuk umum, sehingga bagi siapa saja boleh mengunjungi kompleks makam dan berziarah ke Para Raja Kerajaan Mataram ini.

ziarah-petilasan-makam-imogiri

Ziarah Petilasan Makam Imogiri

Para peziarah Petilasan Keramat di Yogyakarta paling sakral ini bisa menemukan tempat tersebut yang berupa sebuah anak tangga dari batu yang memanjang yang merupakan makam penghianat tersebut. Anak tangga yang terbuat dari batu tersebut sekarang sudah berlekuk karena sudah banyak orang yang menginjaknya. Anak tangga batu tersebut merupakan monumen yang merupakan sebuah peringatan bagi pengikut Sultan Agung agar tindakan penghianatan tersebut tidak terulang kembali. Saat memasuki lokasi makam raja tersebut, aroma kembang bercampur dupa seakan menyambut kedatangan para pengunjung. Abdi dalem Keraton hampir setiap hari meletakkan sesajen khusus di makam tersebut. Menurut keterangan juru kunci makam raja tersebut, makam Sultan Agung selalu harum semerbak dikarenakan beliau sekarang sudah sampai tingkatan waliyullah ( kekasih Allah ).

Hingga kini makam Sultan Agung sangat dikeramatkan sehingga tidak sembarang orang bisa memasuki kompleks makam tersebut. Adanya persyaratan yang harus dipenuhi bila berniat melakukan ziarah pada makam Sultan Agung yaitu : para peziarah dilarang menggunakan alas kaki, membawa kamera, memakai perhiasan terutama dari emas dan harus mengenakan pakaian khas Jawa atau peranakan. Untuk peziarah laki-laki harus mengenakan pakaian jawa berupa blangkon, beskap, kain, sabuk, timang dan samir. Sedangkan untuk peziarah perempuan harus mamakai kemben dan kain panjang. Di area makam dan hutan tersebut secara umum para pengunjung dilarang berbuat tidak sopan, berburu, memotong pohon, mengambil kayu dan mencabut / merusak tanaman yang ada.

Masih dalam kompleks makam raja, pengunjung bisa melihat dan menyaksikan ada 4 gentong atau padhasan yang menurut cerita merupakan persembahan dari kerajaan-kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Gentong-gentong tersebut konon memiliki khasiat tertentu seperti untuk kesehatan, penyembuhan ataupun kesuksesan sehingga banyak para peziarah yang percaya berebut untuk mendapatkan air ini. Walaupun makam Imogiri buka setiap hari akan tetapi pada hari-hari tertentu makam ini dipadati banyak pengujung. Seperti waktu malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon. Para peziarah pada waktu tersebut banyak melakukan ritual doa id sekitar makam, terutama pada tengah malam. Para peziarah datng dengan berbagai maksud dan tujuan masing-masing seperti berdoa untuk kesuksesan, karir atau menambah ilmu kanuragan.

Harga Tiket Dan Fasilitas Makam Imogiri

Untuk berkunjung ke makam raja di Imogiri tidak dikenakan biaya. Hanya setiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu dan memberi sumbangan seikhlasnya kepada juru kunci makam.’Apabila pengunjung juga membawa air dari gentong tersebut maka akan dikenakan biaya tambahan yang juga bersifat sukarela. Selain itu terdapat kota infak yang terletak didepan masjid tepatnya di bawahh anak tangga pertama menuju makam, pengunjung diharapkan bisa memberi berapapun seikhlasnya.

Fasilitas yang terdapat ditempat ini terbilang standar yang berupa tempat parkir, toilet umum dan guide yang akan menceritakan sejarah yang berhubungan dengan makam raja Imogiri ini. Selain pemandu, anda juga dapat membeli tiga buku kecil yang berupa foto copy-an yang berisi riwayat makam Raja Mataram, skema makam raja dan riwiyat mataram di kotagede.  Terdapat juga beberapa warung yang berada di Terminal yang menyediakan makanan seperti wedang uwuh, pecel, jadah tempe dan tahu bacem.

astana-giri-gondo

Astana Giri Gondo

Petilasan Keramat Di Yogyakarta Paling Sakral berikutnya adalah Astana Giri Gondo. Pasarean Giri Gondo atau Astana Giri Gondo adalah Tempat Pemakaman dan peristirahatan terakhir untuk Adipati Pakualaman beserta para kerabatnya. Lokasi Komplek pemakaman ini terletak di atas Perbukitan Menoreh di Desa Kaligintung, Temon, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta berjarak sekitar 10 km dari kota Wates. Pada tahun 1900, ketika Paku Alam V memerintahkan pembangunannya. Angka tahun ini tertera pada prasasti di pintu gerbang di halaman/teras I. Di pemakaman tersebut sampai saat ini dimakamkan Paku Alam V sampai dengan Paku Alam VIII. Para Adipati Paku Alam sebelum itu masih dimakamkan di Pasarean Hastana Kitha Ageng di Kotagede. Selain itu lokasi makam karena asal Paku Alam V, dia adalah anak dari dari Garwo Ampeyan Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulon Progo.

Secara garis besar komplek pemakaman ini terdiri dari 6 teras dan setiap teras dihubungkan dengan tangga atau trab. Teras pertama merupakan teras tertinggi dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 meter dengan gapura dan pintu gerbang terbuat dari besi. Area teras satu sebesar 3,2 x 2,155 meter ini dimakamkan keluarga Pakualaman yakni isteri, anak dan menantu, sudah terdapat 32 makam, teras 2 terletak disebelah Selatan teras 1, dihubungkan dengan trap, telah berisi 8 buah makam, teras 3 sudah terdapat 2 makam, teras 4 sudah terdapat 3 buah makam yang merupakan kerabat jauh Pakualaman, teras 5 masih kosong, dan teras ke 6 terbagi menjadi 2 bagian yakni sebelah barat sudah ada 2 makam dan sebelah Timur sudah ada 7 makam. Bagi pengunjung atau peziarah ke makam ini tidak dipungut biaya apapun.

Memasuki area makam pengunjung disambut dengan menaiki anak tangga jumlahnya sekitar 258 buah. Setelah itu disambut dengan wangi bunga dan dupa dari makam-makam tersebut. Seperti halnya makam-makam raja yang lain yang terletak diatas pemandangan dari atas tampak indah dan suasananya sangat mistis. Kisah bau wangi di Girigondo karena  tanah gunung Keling menebarkan  bau wangi maka tempat tersebut lalu disebut Giri Gondo. Gunung  yang berbau harum. “Kalau  soal dongeng tentang asal  muasa  nama Girigondo, memang pernah ada. namun karena sudah  cukup lama, secara perlahan  dongeng itu memudar. Tutur juru kunci makam Drs. H Mas wedana Wasiluddin (64), Wasiludin menjelaskan pembangunan mama diprakars KGPAA  PA V. adakan naik tahta  1878 dan  wafat  1900.

Parakaras iutu berawal dari kondisi makam raja-raja Hastarengga, Kotagede, Yogyakarta yang tidak  lagi bisa  digunakan  atau dan mungkin saat itu sudah jenuh maka KGPAA PA V lalu memutuskan untuk membangun sebuah  kompleks makam, bagi keuarga PA, Sri PA menjadi adipati pertama yang dimakamkan khsusus  keluarga-keluarga P. Sebelum digunakan sebagai makam khsusus baik keluarga PA, Papar wailuddin. Gunung Keling merupakan bukit berkemiringan yang cukup curam saat pembangunan makama dimulai, orang yang pertama kali menerima dhawuh adalah Wonorejo, oleh itu sebab itu ketika wonorejo, meninggal, dimakamkan ditimur bangsal,tempat istirahat masyarakat atau para peziarah. Para peziarah  biasanya  bersuci  dan shalat dimasjid terlebih dulu, sebelum berziarah ke makam utama. Wasiluddin akan menuntun  para pezarah membaca  jaimah thoyobbah, tahli, dzkikir dan tahmid. Selanjutnya di makam para adipati PA .Mereka akan menutup prosesi peziarahan  dengan doa pribadi dan tabur  bunga.

Petilasan Makam Hastorenggo

Komplek pemakaman ini berada di wilayah Kecamatan Kotagede, Yogyakarta. Bernama Makam Hastorenggo, di pesarean ini bersemayam jasad Danang Sutowijowo atau yang dikenal dengan nama Panembahan Senopati pendiri Kraton Yogyakarta. Di tempat ini terdapat pohon beringin yang dikeramatkan. Konon pohon beringin ini ditanam langsung oleh tangan Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Di komplek ini juga terdapat tempat pemandian yang dipercaya membuat awet muda bagi siapapun yang membasuhkan air ke wajahnya.

Petilasan Makam Wotgaleh

Tempat ini disebut Makam Wotgelah yang terletak Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Di tempat ini bersemayam Pangeran Purubaya yang tak lain putera dari Panembahan Senopati. Semasa hidup, Pangeran Purbaya dikenal sebagai sosok sakti mandraguna. Pangeran Purubaya juga dikenal dengan nama Joko Umbaran, karena semaca kecil ‘diumbar’ (ditelantarkan) ornag tuanya. Pangeran Purbaya meninggal pada Minggu Wage 1676 Masehi.

Ada hal gaib yang sering dijumpai di makam ini. Para penjaga makam acap menemukan bangkai burung maupun kelelawar di sekitar komplek pemakaman, konon dipercaya apapun yang melntas di atas makam akan jatuh menghujam bumi. Kepercayaan ini pula yang kemudian membuat pesawat terbang tak berani melintas di atas komplek makam Wotgaleh. Walau letaknya berada di barat daya Bandara dan Pangkalan Udara Adisutjipto, namun para pilot memilih memutar haluan serta tak berani melintasi sekitar atas makam.

Makam Roro Mendut

Makam keramat ini berada di Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Makam ini cukup dikenal oleh warga lantaran di sinilah tempat dimakamkannya jasad Roro Mendut dan Pronocitro, sebuah legenda cinta sejati yang pernah hidup di tanah Jawa layaknya cerita Romeo dan Juliet di Eropa. Roro Mendut dikenal sebagai gadis cantik pada masanya yang dipaksa menikah dengan Tumenggung Kerajaan Mataram bernama Wiroguno. Namun Roro Mendut menolak tawaran itu karena ini telah memiliki kekasih bernama Pronocitro.

Wiroguno yang mengetahui hubungan mereka akhirnya mencari-cari Pronoctiro hendak dibunuh dan akhirnya ia menemukannya saat berduaan dengan Roro Mendut. Sang Tumenggung lalu mengarahkan kerisnya ke dada Pronocitro, namun Roro Mendut berkorban menjadi kekasihnya dengan memeluk pemuda itu. Keris akhirnya menusuk punggung Roro Mendut dan tembus mengenai dada Pronocitro. Kedua sejoli ini tewas bersamaan dan langsung dimakamkan dalam satu liang di tempat tersebut.

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait Kisah Petilasan Keramat Di Yogyakarta Paling Sakral