lklan-728x90
Menu

Kampung Dolanan Pandes Yogyakarta Lestarikan Mainan Anak Tradisional

Pernahkah anda mendengar mainan kitiran, manukan, dan othok-othok?? Mainan tersebut saat ini menjadi barang yang langka dan asing bagi anak-anak kita. Mainan modern seperti playstation dan game online sedikit demi sedikit melumpuhkan mainan tradisional warisan nenek moyang kita yang sarat akan nilai kebudayaan. Di Kampung Dolanan anda akan dapat melihat dan membuat langsung mainan tradisional dengan menyenangkan.

Bila saat ini anak-anak di kota besar gencar mencari gadget terbaru seperti playstation dan game internet, masyarakat di Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, justru gencar mengembangkan permainan tradisional anak. Bahkan mereka pun menyebut dirinya sebagai kampung dolanan (mainan) anak. Kampung Dolanan juga memiliki banyak atraksi lain, seperti latihan gamelan, menari, outbond, dan lain-lain.

Kampung Dolanan Pandes Yogyakarta Lestarikan Mainan Anak Tradisional

Sejarah Terbentuknya Kampung Dolanan

Kampung Dolanan secara historis adalah salah satu dusun yang masyarakatnya mayoritas memproduksi dolanan anak-anak berbahan bambu dan kertas.Tradisi ini sudah ada sejak pemerintaha HB VIII atau sekitar abad ke-18.Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung dan kepat menjadi salah satu pilihan dolanan yang ditawarankan dari desa ini.

Lahirnya Nama Kampung Dolanan. Momentum gempa bumi 2006 menjadi titik dimana Wahyudi, selaku perintis lahirnya kampung dolanan ini melakukan sebuah pergerakan.Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan pada saat itu, menjadi sebuah langkah kecil untuk mengumpulkan kembali semangat masyarakat Pandes untuk menunjukkan kearifan lokalnya.Kemudian didirikanlah Komunitas Pojok Busaya yang memberikan desa Pandes sebagai Kampung Dolanan.

Terbentuknya Kampung Dolanan ini berasal dari Nyai Sompok yang merupakan keturunan Majapahit. Kedatangan Nyai Sompok di dusun Pandes lantas menyebarkan ketrampilan membuat permainan anak. Hingga tahun 1980-an, hampir ratusan penduduk menekuni profesi ini. Terbukti, hasil kerajinan banyak dijual ke luar daerah Yogyakarta seperti Kebumen, Semarang, Klaten. Namun, pada tahun 1980-an,Kampung Dolanan menjadi sepi karena banjirnya permainan modern.

Munculah Komunitas Pojok Budaya di tahun 2008. Komunitas ini pula yang mendirikan sekolah khusus pengajaran ketrampilan pembuatan permainan tradisional. Bahkan sekolah ini akhirnya menjadi tujuan wisata edukasi yang popular di Yogyakarta.

Aneka Mainan Unik Di Kampung Dolanan

Kampung dolanan memiliki atraksi wisata yang sangat menarik dan tidak biasa. Saat anda memasuki kawasan ini akan disambut oleh patung-patung jerami yang memakai baju tradisional di sepanjang jalan. Begitu pula dengan beberapa patung yang terbuat dari kerajinan anyaman bambu.

Saat anda datang seperti memasuki dalam desa mainan yang membawa anda pada keceriaan anak-anak. Pengunjung kampung dolanan akan diajak membuat mainan tradisional secara langsung dengan si ahli. Sesepuh-sespuh masih sangat lihat membuat pola dan bimsalabim jadilah mainan yang unik dan menyenangkan. Anda akan diajak berkeliling desa mengunjungi rumah pembuat satu per satu sesuai dengan keahlian dari pembuat mainan. Berikut adalah nama-nama mainan yang dapat anda buat.

  1. Wayang Kertas
  2. Kitiran
  3. Othok-othok
  4. Manukan
  5. Geprekan
  6. Gamelan
  7. Menari, dll

Angkrek, othok-othok, wayang kertas, payung, kitiran, kandangan, klontongan  dan kepat merupakan dolanan khas yang dihasilkan di desa ini. Angkrek adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikannya kaki dan tangannya dapat digerakkan secara bersamaan.Hebatnya lagi, wayang kulit dan angkrek buatan dari dusun Pandes tidak digambar terlebih dahulu baru digunting.Namun, simbah-simbah memotongnya langsung dengan mudahnya.Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang kita sebut teres. Kemudian simbah-simbah melukiskannya di atas kertas tersebut.

Begitu halnya dengan pola pada permainan kitiran, kepat (payung), kandangan dan klontongan yang dibuat dari bambu.Tangan-tangan simbah ini mampu memilih mana bambu yang cocok dan bagaimana membentuknya menjadi menarik.Oleh karena itu, tidak salah jika tradisi ini sudah turun-temurun.

Produksi dolanan di desa ini tidaklah semat-mata hanya untuk mata pencaharian para simbah-simbah pada jaman dahulu.Walaupun secara fisik hanyalah sebuah permainan, ternyata dibalik dari sebuah dolanan banyak makna yang ingin disampaikan.

Artikel terkait Kampung Dolanan Pandes Yogyakarta Lestarikan Mainan Anak Tradisional