lklan-728x90
Menu

Inilah Sejarah Dan Seni Budaya Yang Masih Melekat Di Gunungkidul Yogyakarta

06/09/2016 | Seni Budaya

Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosari. Dengan luas sekitar satu per tiga dari luas daerah induknya, kabupaten ini relatif rendah kepadatan penduduknya daripada kabupaten-kabupaten lainnya. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo di utara, Kabupaten Wonogiri di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman di barat. Kabupaten Gunungkidul memiliki 18 kecamatan. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berupa perbukitan dan pegunungan kapur, yakni bagian dari Pegunungan Sewu. Gunungkidul dikenal sebagai daerah tandus dan sering mengalami kekeringan di musim kemarau, namun menyimpan kekhasan sejarah yang unik, selain potensi pariwisata, budaya, maupun kuliner khas Gunungkidul.

Inilah Sejarah Dan Seni Budaya Yang Masih Melekat Di Gunungkidul Yogyakarta

Kabupaten Gunungkidul didominasi oleh pegunungan yang merupakan bagian barat dari Pegunungan Sewu atau Pegunungan Kapur Selatan, yang membentang di selatan Pulau Jawa mulai dari kawasan tersebut ke arah timur hingga Kabupaten Tulungagung. Pegunungan Kidul terbentuk dari batu gamping, menandakan bahwa pada masa lalu merupakan dasar laut. Temuan-temuan fosil hewan laut purba mendukung anggapan ini. Kawasan ini mulai menjadi daratan akibat pengangkatan-pengangkatan tektonik dan vulkanik sejak Kala Miosen.

Geografi Dan Sejarah Gunungkidul

Di bagian utara, yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten, terdapat kawasan perbukitan campuran gampng dan batuan beku sisa aktivitas vulkanik purba yang kemudian terhenti yang dinamakan Perbukitan Baturagung. Di selatan Baturagung terletak Cekungan Wonosari, berupa dataran ketinggian menengah yang terbentuk karena aliran Sungai Oya. Sungai ini bermuara ke Sungai Opak. Cekungan Wonosari banyak menyimpan peninggalan dari masa prasejarah, sejak Zaman Batu Tua sampai Zaman Batu Baru, yang unik yang tidak dijumpai di kabupaten lain di Yogyakarta. Di bagian timur laut, berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri terdapat pegunungan kecil yang dikenal sebagai Pegunungan Panggung.

Kawasan Gunungkidul diperkirakan telah dihuni oleh manusia (Homo sapiens) sejak 700 ribu tahun lalu. Banyak ditemukan petunjuk keberadaan manusia yang ditemukan di gua-gua & ceruk-ceruk di perbukitan karst Gunungkidul, terutama di Kecamatan Ponjong. Kecenderungan manusia menempati Gunungkidul saat itu disebabkan sebagian besar dataran rendah di Yogyakarta masih digenangi air. Kedatangan manusia pertama di Gunungkidul terjadi pada akhir periode Pleistosen. Saat itu, manusia Ras Australoid bermigrasi dari Pegunungan Sewu di Pacitan, Jawa Timur melewati lembah-lembah karst Wonogiri, Jawa Tengah hingga akhirnya mencapai pesisir pantai selatan Gunungkidul melalui jalur Bengawan Solo purba.

Dari sekitar 460 gua karst di Gunungkidul, hampir setengahnya menjadi hunian manusia purba. Dari 72 gua horizontal di ujung utara Gunung Sewu, tepatnya di Kecamatan Ponjong yang terapit Ledok Wonosari di barat dan Ledok Baturetno di timur, 14 goa di antaranya merupakan bekas hunian manusia purba, dan dua di antaranya sudah diekskavasi yaitu Song Bentar dan Song Blendrong. Di ceruk Song Bentar yang pernah menjadi hunian Homo sapiens ditemukan delapan individu yang terdiri dari: 5 dewasa, 2 anak-anak, dan 1 bayi juga ditemukan alat-alat batu seperti batu giling, beliung persegi, dan mata panah. Sementara di Song Blendrong ditemukan banyak tulang, peralatan batu, tanduk, dan serut kerang yang berserakan di lantai ceruk.

Selain itu, di Goa Seropan di Kecamatan Semanu juga ditemukan bukti keberadaan manusia purba. Di lorong lama gua itu banyak ditemukan cetakan tulang purba di dinding-dinding lorong. Sementara di lorong baru, yang berada pada kedalaman 60 m, dan baru muncul setelah terjadinya banjir di sungai bawah tanah tahun 2008, ditemukan potongan tulang kaki, gigi, dan rusuk mamalia.

Sosial Budaya Masyarakat Gunungkidul

Bentuk wilayah atau fisografi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pola kehidupan sosial budaya pada masyarakat. Unsur sosial budaya merupakan salah satu instrumen penting dalam pembangunan, hal ini terkait perencanaan, sasaran, dan capaian target kinerja pembangunan. Karakteristik sosial budaya masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat tradisional yang masih memegang teguh budaya luhur warisan nenek moyang. Sehingga dalam melaksanakan pembangunan, pemerintah berupaya untuk mengadopsi karakteristik sosial budaya agar dapat berimprovisasi dengan kultur masyarakat yang ada. Masyarakat Kabupaten Gunungkidul secara umum menggunakan bahasa lokal (bahasa jawa) dalam berkomunikasi, sementara bahasa nasional (bahasa Indonesia) secara resmi dipakai dalam lingkungan formal (kantor, pendidikan, fasilitas umum, dan lain-lain).

Organisasi kesenian sebagai budaya yang terus dipupuk dan dilestarikan oleh masyarakat berjumlah 1.878 organisasi, dengan tokoh pemangku adat berjumlah 144 orang. Sementara itu desa budaya yang dikembangkan oleh pemerintah untuk menunjang kesejahteraan masyarakat sebanyak 10 desa budaya, cagar budaya yang dimiliki sebanyak 5 buah serta benda cagar budaya sejumlah 692 buah yang tersebar di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Tradisi Rasulan Gunungkidul

Tradisi Rasulan Gunungkidul

Rasulan adalah tradisi yang sudah lama diselenggarakan oleh masyarakat Gunungkidul, yang merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh para petani setelah masa panen tiba. Rasulan atau bersih dusun dilaksanakan hampir di setiap dusun maupun desa yang ada di Kapubaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tradisi ini sampai sekarang rutin diadakan setiap tahunnya oleh masyarakat Gunungkidul. Waktu pelaksanaannya pun berbeda-beda, tergantung pada kesepakatan warga setiap dusun.

Kirab, arak-arakan mengelilingi desa dengan membawa tumpengan atau sajian berupa hasil panen seperti pisang, jagung, padi, ayam panggang, dan sebagainya. Rasulan biasanya berlangsung selama beberapa hari, diawali dengan kegiatan kerja bakti atau membersihkan lingkungan sekitar dusun seperti memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, serta membersihkan makam. Tidak hanya membersihkan lingkungan desa, puncak dari tradisi rasulan disemarakkan dengan berbagai rangkaian kegiatan olahraga dan pertunjukan seni budaya. Rasulan telah dikemas menjadi salah satu event budaya khas Indonesia dan pengembangan wisata di kawasan Gunungkidul.

Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap desa memiliki tempat khusus di mana dewa berada. Tempat yang biasanya dipercaya menjadi tempat tinggal dewa adalah pohon beringin, pohon ara, pohon kapuk atau bahkan batu akik. Oleh karena itu, orang desa membuat tumpengan sebagai persembahan yang didedikasikan untuk menangkal gangguan jahat. Orang Gunung Kidul menganggap Rasulan sebagai hari raya ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha.

Dengan demikian, Rasulan menyerupai Idul Fitri di mana orang mengunjungi kerabat mereka dan menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah. Setiap keluarga memasak makanan khusus untuk para tamu. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulan berfungsi untuk meningkatkan semangat persatuan dan memperkuat persaudaraan di antara warga. Kapan tradisi Rasulan ini mulai ada tidak diketahui dengan pasti, namun, sudah berjalan selama beberapa dekade dan merupakan warisan dari nenek moyang orang Gunung Kidul.

Atraksi Seni Budaya Saat Rasulan

Berbagai tradisi dan atraksi seni budaya pada perayaan tradisi rasulan di Gunungkidul ini berhasil menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar negri, lo! Pada perayaan rasulan, pengunjung atau wisatawan disuguhkan pertunjukan seni dan budaya mulai dari kirab, doger, jathilan, wayang kulit, serta reog Ponorogo. Pada tradisi rasulan, puncak keramaian biasanya terjadi pada saat diselenggarakannya kegiatan kirab. Kirab adalah semacam karnaval atau arak-arakan mengelilingi desa dengan membawa tumpengan atau sajian berupa hasil panen seperti pisang, jagung, padi, ayam panggang, dan sebagainya.

Setelah upacara persembahan tumpengan atau kirab, rasulan dilanjutkan dengan melakukan doa bersama di balai dusun untuk ketentraman dan keselamatan seluruh warga. Acara kemudian dilanjutkan dengan kegiatan perebutan tumpengan, ini merupakan suatu tontonan yang menarik yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan wisatawan. Tradisi rasulan merupakan aset budaya yang harus dipertahankan, karena dengan jiwa kebersamaan dan semangat gotong-royong, maka keharmonisan masyarakat dapat terwujud. Selain sebagai sarana untuk memupuk semangat kekeluargaan, tradisi ini juga menjadi salah satu wadah untuk melestarikan kesenian daerah Gunungkidul.

Rinding Gumbeng Kesenian Gunungkidul

 

Rinding Gumbeng Kesenian Gunungkidul

Rinding Gumbeng adalah salah satu kesenian tradisional khas Gunungkidul dari daerah Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kesenian ini menjadi cermin kehidupan masyarakat Gunungkidul yang dikenal sederhana, ulet, serta dekat dengan alam. Kesederhanaan inilah yang selalu tampak dari setiap pagelaran Rinding Gumbeng. Meskipun terkesan sederhana pada alat dan para pemainnya, kesenian Rinding Gumbeng menyajikan alunan musik yang khas, indah, melodius, serta dinamis nan ekspresif.

Kesenian Rinding Gumbeng merupakan salah satu kesenian tradisional yang terdiri dari enam penabuh gumbeng,enam peniup rinding, dan tiga penyanyi perempuan yang biasa disebut dengan istilah penyekar. Rinding dan Gumbeng sendiri merupakan dua jenis alat musik yang terbuat dari bambu. Jika cara memainkan Rinding adalah ditiup, maka Gumbeng adalah alat musik yang ditabuh atau dipukul. Sementara itu, kostum yang dikenakan oleh para pemain Rinding Gumbeng hanyalah baju, dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik. Untuk para penyekar, kostum yang dipakai adalah kebaya khas petani desa dengan kain lurik dan juga caping bambu.

Meskipun tak ada data yang akurat mengenai, kapan kesenian ini mulai dimainkan. Hanya saja banyak warga mempercayai bahwa usia Kesenian rinding Gumbeng ini sudah sangat tua. Penggunaan bambu sebagai bahan utama pembuatan alat musik ditengarai bahwa kesenian ini muncul jauh-jauh hari sebelum masyarakat Gunungkidul mengenal logam dan masih mempercayai Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Pada mulanya, Rinding Gumbeng ini dimainkan seusai masyarakat merayakan panen pertama. Kala itu masyarakat mengarak hasil bumi terbaik sebagai persembahan untuk Dewi Sri dengan diiringi musik Rinding Gumbeng yang meriah. Selain sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh, masyarakat yang masih mempercayai sosok imajiner Dewi Sri sebagai dewi penjaga padi meyakini bahwa bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh alat musik Rinding Gumbeng akan menyenangkan hati Dewi Sri. Ketika Dewi Sri terhibur dan bahagia, maka secara otomatis dia akan memberikan hasil panen yang lebih melimpah pada musim-musim berikutnya.

Kesenian Rinding Gumbeng Masa Kini

Tahun-tahun belakangan, Kesenian Rinding Gumbeng yang hanya ditemui di Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul sudah mengalami transformasi. Rinding Gumbeng sudah jarang dimainkan dalam pesta panen masyarakat. Meski begitu, kesenian ini masih tetap lestari dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Musik Rinding Gumbeng tidak lagi dimainkan dalam pesta panen melainkan dalan Upacara Nyadran Hutan Wonosadi. Selain itu, Rinding Gumbeng juga kerap ditampilkan dalam pentas budaya baik tingkat lokal maupun nasional.

Apabila dahulu Rinding Gumbeng hanya dijadikan sebagai pengiring lagu-lagu tradisional, saat ini sesuai dengan tuntutan jaman, banyak inavasi yang di lakukan supaya Kesenian Rinding Gumbeng mampu mengiringi alat musik lainnya. Dengan penambahan berbagai alat ke dalam kelompok kesenian Rinding Gumbeng, maka saat ini Rinding Gumbeng bisa di gunakan untuk mengiringi musik dangdut, keroncong, dolanan bocah maupun campursari.

Tradisi Gumbregan Masyarakat Gunungkidul

Tradisi Gumbregan Masyarakat Gunungkidul

Masyarakat memiliki berbagai cara guna mengungkapan rasa syukur dan tanda etrimakasih kepada Tuhan. Ada yang melakukannya sendirian ataupun bersama keluarga di rumah, ada pula yang membuat acara di luar rumah bersama teman-teman ataupun tetangga. Jika saat ini ada aktivitas makan-makan bersama teman, rekanan, pun tetangga di sebuah restoran ataupun rumah makan, sejatinya sudah sejak lama masyarakat kita juga memiliki tradisi mengungkapkan rasa syukur itu. Sebagai contoh adalah dengan mengundang tetangga untuk mengadakan syukuran, bisa berbentuk kenduri (gendhuren), bancaan, tumpengan, dan masih banyak lagi.

Syukuran Rejeki Ternak

Yang menjadi rangkaian utama dalam syukuran adalah diungkapkannya doa bersama baik dalam rangka meminta ataupun berterimakasih atas rejeki ternak yang dipelihara. Rasa syukur ini dirasa penting dan dijadikan tradisi karena keberadaan ternak baik yang berujud unggas, kerbau, sapi, kambing, dan lain sebagainya, sangat membantu taraf hidup.

  • Kotoran Sebagai Pupuk. Bagi para petani, memiliki binatang piaraan bukan saja akan mendapatkan keuntungan pada saat dijual. Lain dari itu kotoran yang ditumbulan darinya juga memiliki manfaat lebih, yaitu sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah demi mendapatkan hasil bagus pada tanaman-tanamannya.
  • Mengolah Sawah.Petani padi sudah sejak lama memiliki tradisi membajak sawah dengan bantuan binatang peliharaan, baik kerbau ataupun sapi. Binatang-binatang inilah yang memberi manfaat ganda bagi kehidupan manusia dan bahkan juga lingkungan. Pasalnya binatang piaraan tetap ramah terhadap lingkungan dan jauh dari risiklo pengrusakan.
  • Jasa Angkutan. Sebelum dunia dicemari oleh bahan bakar minyak sebagai hasil buang dari kendaraan, binatang ternak menjadi satu tenaga handal yang digunakan sebagai alat transportasi. Ada kereta (kuda), ada dokar, ada pedati, dan lain sebagainya.

Melihat banyaknya manfaat binatang peliharaan, ada masyarakat yang hingga kini masih tetap melakukan acara syukuran atas rezaki dari binatang tersebut, yaitu sebagian masyarakat Gunung Kidul – Yogyakarta, dengan melaksanakan tradisi ‘Gumbregan.’

Tradisi Gumbregan adalah bukti sifat luhur masyarakat petani di Jawa, khususnya di Yogyakarta yang begitu peduli dan sayang pada hewan ternaknya. Ucapan syukur dan kebijakan berbagi hasil bumi langsung kepada ternak adalah ucapan terima kasih dan keikhlasan dari petani untuk ternak kesayangannya. Sajian dalam tradisi Gumbregan adalah makanan tradisional yang berasal dari hasil bumi seperti ketela, kimpul, nasi kupat, kolak pisang, jadah, dan trembili. Ada juga among–among, yaitu nasi putih dibungkus daun pisang yang dibuat lancip, ukurannya kecil dan diberi lauk pauk. Kesederhanaan sajian ini bukan tanpa alasan. Penggunaan hasil bumi hasil kebun sendiri adalah pelaksanaan prinsip hidup qonaah atau sederhana.

Gumbregan diawali dengan doa bersama di teras milik tuan rumah. Sajian makanan tradisional disuguhkan dan doa diselenggarakan. Seusai berdoa di teras rumah, acara berlanjut ke kandang ternak dengan membawa air dan makanan yang telah disiapkan tadi. Berbagai macam kupat yang tadi disertakan dalam doa bersama juga dibawa ke kandang. Rangkaian kupat ini diletakkan di langit-langit kandang. Di malam hari setelah itu, anak-anak boleh mengambil kupat-kupat tersebut. Karena itulah disertakan kupat yang tidak ada isinya, sehingga anak-anak tidak mengambil jenis kupat ini. Karena tidak diambil, maka masih ada sisa kupat yang menggantung di kandang yang menjadi jatah untuk ternak disana.

Artikel terkait Inilah Sejarah Dan Seni Budaya Yang Masih Melekat Di Gunungkidul Yogyakarta