lklan-728x90
Menu

Inilah Museum Menarik Di Yogyakarta Yang Wajib Anda Kunjungi

Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki populasi 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2. Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang menimbulkan penyingkatan nomenklatur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta sering dihubungkan dengan Kota Yogyakarta sehingga secara kurang tepat sering disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta. Daerah Yogyakarta ini merupakan kunjungan wisata yang menjadi favorit banyak wisatawan.

inilah-museum-menarik-di-yogyakarta-yang-wajib-anda-kunjungi

DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang fisik maupun nonfisik. Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya, dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat. DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio, dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya, dan beradat tradisi. Selain itu, DIY juga mempunyai 30 museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu, dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada 2010, persentase benda cagar budaya tidak bergeak dalam kategori baik sebesar 41,55%, sedangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%.

Wisata Bersejarah Museum Yogyakarta

Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta adalah salah satu kota tujuan wisata paling populer di Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta sampai saat ini masih menjadi salah satu provinsi yang benar-benar melestarikan budaya. Rasanya bukanlah hal yang berlebihan jika Yogyakarta disebut sebagai Kota Budaya. Di kota ini terdapat istana raja atau kraton yang menjadi pusat kebudayaan Jawa. Selain dikenal dengan berbagai wisata alam yang indah seperti Gua Pindul dan Pantai Siung, kota tempat tingal Sultan Hamengkubuwono ini memiliki banyak destinasi wisata sejarah dan budaya yang tak kalah menarik. Banyak peninggalan-peninggalan maupun tata cara adat Jawa yang masih terus dijaga di sana. Tidak ayal lagi, provinsi kecil di selatan Pulau Jawa ini merupakan salah satu destinasi wisata budaya.

Kota dengan pesona keramahan penduduknya memang tidak salah jika dijadikan sebagai tempat tujuan backpacking. Aura senyum yang terpancar di antara hiruk-pikuk kota yang dijuluki kota Gudeg ini menjadi magnet yang tidak bisa dihindarkan. Selain apa-apa serba murah, tentu Jogja juga menyimpan banyak cerita sejarah yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Menarik untuk dikulik dan memberikan pengalaman seru tersendiri, apalagi cerita-cerita yang ada dapat menambah pengetahuan dan wawasan.

Backpacking memang seru, meskipun dilakukan sendirian. Dengan membawa uang yang minim, tas ransel menggantung di punggung, dan membiarkan ke mana pun langkah kaki akan membawamu, harapan tentang sesuatu yang baru menggantung di depan mata. Namun, apa jadinya jika tempat tujuan backpacking-mu adalah museum? Di mana museum jarang menjadi tujuan wisata, terlebih untuk para backpacker. Tapi jangan salah, ternyata beberapa museum di Jogja ini menawarkan pengalaman baru backpacking yang tak terduga. Selain koleksi benda-benda unik yang dimiliki, museum dengan gaya arsitektur bangunan yang klasik atau kuno dapat menjadi background menarik untuk berfoto.

museum-benteng-vredeburg-yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Tidak lengkap rasanya kalau berlibur ke Kota Gudeg Yogyakarta tanpa mencoba pergi ke Benteng Vredeburg. Benteng ini merupakan salah satu bangunan bersejarah pada jaman penjajahan Belanda yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I atas permintaan dari pemerintah Belanda pada tahun 1760. Museum Benteng Vredeburg berlokasi di dekat kawasan titik nol kilometer Yogyakarta atau kawasan Malioboro. Benteng ini berbentuk bujur sangkar dan memiliki 4 bastion di setiap sudutnya. Nama ke-4 bastion tersebut adalah Jayaprayitna di sudut tenggara, Jayapurusa di sudut timur laut, Jayawisesa di sudut barat laut, dan Jayaprakosaning di sudut barat daya. Saat ini selain sebagai peninggalan bersejarah, Benteng Vredeburg juga digunakan sebagai museum di mana kita bisa belajar tentang sejarah Indonesia dalam bentuk diorama.

Diorama terdiri dari 4 bagian yang dipisahkan dalam 2 gedung yang berbeda. Ketika memasuki gerbang dan kemudian masuk,anda akan menemukan 2 bagian diorama. Setiap diorama mewakili waktu atau periode yang dikisahkan dalam dioramanya. Disamping itu, terdapat beberapa patung, lukisan, grafik, dan layar sentuh yang memudahkan anda untuk berinteraksi dan merasakan perjuangan pada masa tersebut. Yang menarik dari diorama ini adalah sebuah jalinan cerita yang menyatu dari satu adegan ke adegan lain, dari awal masa perjuangan melawan penjajah sampai dengan masa kemerdekaan dan pembangunan.

Jika dibandingkan dahulu, Benteng Vredeburg yang sekarang terlihat sangat bersih dan terawat. Bangunannya pun kembali di cat agar terlihat semakin menarik bagi para pengunjung. Saat memasuki benteng ini akan terasa suasana jaman Belanda dengan arsitektur bergaya Eropa. Benteng ini dikelilingi oleh parit sehingga anda harus masuk ke benteng dengan melewati jembatan penghubung. Dari atas jembatan penghubung ini anda dapat melihat keindahan Kota Yogyakarta. Anda juga bisa melihat keindahan kota saat memasuki area menara pengawas yang ada di benteng ini. Tempat ini juga menjadi tempat favorit bagi para pengunjung untuk berfoto ria.

Sejarah Bangunan Benteng Vredeburg

Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 – 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 – 1977 berfungsi sebagai markas militer RI. Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi “Museum Khusus Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Yogyakarta”. Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum.

Museum yang ada di Benteng Vredeburg menyajikan diorama yang menceritakan tentang sejarah Indonesia. Selain itu, terdapat banyak lukisan dan gambar serta benda-benda peninggalan bersejarah pada jaman penjajahan Belanda. Kalau anda mau berkeliling benteng maka anda dapat menyewa sepeda Onthel dengan harga sangat terjangkau yaitu membayar 5.000 rupiah saja.

Pulang dari objek wisata Vredeburg jangan langsung pulang dulu karena anda harus menikmati suasana Malioboro di waktu malam. Di area benteng ini terdapat banyak pedagang kaki lima yang menawarkan panganan atau camilan. Di sini juga banyak sekali wisatawan atau masyarakat lokal duduk-duduk dan beristirahat sambil menikmati ramainya jalan Malioboro di dekat Benteng Vredeburg Yogyakarta.

museum-anak-kolong-tangga-yogyakarta

 

Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta

Berdiri pada tahun 2008, Museum Anak Kolong Tangga merupakan museum anak dan mainan pertama di Indonesia. Diawali inisiatif dari seorang seniman asal Belgia, Rudi Corens, yang juga adalah seorang kolektor mainan dan permainan dari berbagai negara, museum ini dapat berdiri dengan dukungan banyak pihak, yang mana tanpa dukungan dari Ibu Dyan Anggraini (Kepala Taman Budaya saat itu), inisiatif membuat museum mainan anak tidak akan pernah terwujud. Seiiring perjalanannya, koleksi museum yang awalnya berkisar 3000 buah, kini menjadi 10.000 buah yang semuanya tidak bisa dipajang di museum tentunya, melainkan disimpan di gudang museum di daerah Bintaran, dimana terdapat pula perpustakaan dan Sanggar Burung Biru.

Anak-anak dan mainan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena dunia anak adalah dunia bermain. Seiring kemajuan jaman dan perkembangan teknologi, aneka mainan tradisional banyak yang menghilang dan dilupakan oleh anak-anak generasi sekarang. Beranjak dari keprihatinan akan hal tersebut, maka Rudi Corens seorang berkebangsaan Belgia yang sudah lama tinggal di Indonesia mendirikan sebuah museum untuk anak-anak.

Terletak di gedung Taman Budaya Yogyakarta lantai dua, tepatnya di Jalan Sriwedani no. 1, Yogyakarta, museum ini memang berada satu kompleks dengan Taman Budaya Yogyakarta di belakang Taman Pintar (dahulu shopping center). Museum ini didirikan oleh Rudi Corens, seorang seniman berkebangsaan Belgia, dibantu oleh teman-temannya antara lain Diyan Anggraeni (Dinas Kebudayaan) dan Anggi Minarni (Karta Pustaka). Dibuka untuk umum pada tanggal 2 Februari 2008, museum ini didirikan berawal dari satu kekhawatiran Rudi Corens terhadap anak-anak dan remaja yang cenderung melupakan budaya dan tradisi mereka sendiri di era globalisasi ini. Anak-anak sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menonton televisi atau bermain gadget elektronik.

Profil Museum Anak Kolong Tangga

Nama “Kolong Tangga” merupakan makna literal dari lokasi museum yang terletak di bawah tangga gedung konser taman budaya, Jl. Sriwedari no 1, Yogyakarta. Koleksi dari museum tidak hanya merupakan mainan, melainkan segala benda yang berkaitan dengan dunia anak, sebagian besar dari Indonesia, namun koleksi manca negara pun tidak kalah banyaknya, terima kasih kepada para donatur dan hadiah dari kedutaan besar dan sahabat-sahabat museum dari seluruh dunia. Konsep terakhir dari museum yang ingin diangkat oleh kurator yaitu Museum Kolong Tangga sebagai Museum Pendidikan dan Mainan. Pendidikan adalah esensi dari seluruh tema dari koleksi museum tahun 2013 ini, dimana bisa dilihat bahwa tidak hanya mainan lawas dan objek lawas yang berkaitan dengan anak, namun juga objek-objek kontemporer, yang bisa dijadikan referensi dan mengembangkan wawasan anak-anak di Indonesia tentang “dunia di luar mereka”.

Museum Kolong Tangga ingin mengangkat dan memperkenalkan fungsi dari mainan dan permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan anak sehari-hari. Kami percaya pada nilai-nilai sosial dan lingkungan dalam mainan dan permainan tradisional, dari mulai penggunaan bahan, proses pembuatan hingga bagaimana cara memainkan mainan tersebut. Berangkat dari hal penting tersebut, kami mencoba untuk menarik minat dan kecintaan cinta anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk terhadap mainan dan permainan tradisional.

Museum Kolong Tangga ini dirancang untuk menjadi area publik, ruang tamu umum yang tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan menampilkan benda-benda antik semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi anak-anak agar lebih mengerti tentang budaya Indonesia sendiri. Diharapkan juga akan sumber inspirasi bagi kreativitas anak-anak dengan melakukan kegiatan seperti workshop kreativitas, konser musik, dan pameran tahunan sehingga anak-anak bisa merasa dekat dengan museum mereka.

Koleksi Museum Kolong Tangga

Koleksi Museum Kolong Tangga tidak hanya tentang mainan dan permainan tradisional, tetapi juga segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia anak. Saat ini Museum Anak Kolong Tangga memiliki lebih dari 16.000 koleksi, terdiri dari mainan, permainan, buku cerita, poster, gambar, dan lain-lain dari Indonesia dan berbagai negara lain. Karena keterbatasan ruang, museum hanya menampilkan 300-500 koleksi dan sisanya disimpan di gudang sekretariat. Hampir 80% dari koleksi museum, merupakan sumbangan Rudi Corens untuk Yayasan Dunia Damai. Sisanya berupa sumbangan dari para donatur dan sponsor untuk memperkaya koleksi.

Selain itu museum juga melakukan pertukaran koleksi dengan museum anak-anak lain, salah satunya adalah museum di Hungaria. Koleksi mainan di Museum Kolong Tangga ini bukan mainan modern hasil pabrikan, tetapi mainan anak tradisional asli buatan tangan yang mengandung usur budaya, tradisi, dan mitos pada zamannya, seperti kuda- kudaan kayu, mainan motor dari kayu, rumah mainan, gasing dari dalam dan luar negeri, mainan yang terbuat dari kertas dan masih banyak yang lainnya, yang pastinya bisa membuat anak anda senang dan mendapatkan banyak pelajaran. Sedangkan untuk koleksi dari lima benua terdiri dari berbagai poster, komik dan berbagai macam foto tentang dunia anak.

Workshop Untuk Anak-Anak dan Pengunjung

Bagi pengunjung yang datang secara rombongan (minimal 15 orang), pengunjung dapat meminta kepada pihak pengelola museum untuk diadakan workshop permainan tradisional. Selain workshop untuk pengunjung, museum ini juga sering mengadakan workshop dan aneka kegiatan untuk anak-anak di akhir pekan. Kegiatan tersebut bisa berupa story telling, belajar membuat kerajinan tangan, menari, dan masih banyak lagi. Selain mengikuti workshop dan menyaksikan aneka koleksi mainan yang menarik, pengunjung juga bisa membeli mainan tradisional yang dijual di tempat ini dengan harga terjangkau.

Aktifitas Komunitas Kolong Tangga

Selain aktifitas di Museum, komunitas KOlong Tangga yang terdiri dari volunter dan karyawan museum secara berkala mengadakan berbagai kegiatan dan kerjasama dengan berbagai pihak yang memiliki ketertarikan sama terhadap dunia anak, pendidikan  dan mainan anak tradisional dan modern. Museum Kolong Tangga beberapa kali berkolaborasi dengan pihak luar museum pernah mengadakan pameran seperti Pameran robot, workshop telling story, Pameran “You Cook I eat” dan kurator museum Pak Rudi masih aktif sebagai pembicara di berbagai seminar tentang dunia anak dan mainan anak. Setiap minggu workshop dan kegiatan bermain dan belajar diadakan di Sanggar Burung Biru di Bintaran, tepatnya di perpustakaan yang dikelola komite kerja Yayasan dunia Damai. Bersama anak-anak yang tinggal di sekitar sanggar, tim volunteer dari Museum secara rutin mengadakan kegiatan belajar dan bermain dalam rangka melestarikan permainan anak tradisional dan membantu anak-anak sekitar belajar dan bermain.

Di Museum ini anak-anak juga bisa melihat koleksi Sepeda trike (beroda tiga) dari masa lalu, atau kumpulan gasing dari berbagai daerah, atau malah senjata tradisional yang ada di berbagai daerah Indonesia, mulai dari Irian, Maluku, Jawa Barat sampai Aceh. Salah satunya adalah ketapel atau slingshoot. Ada juga kumpulan mainan kreatif dan mobil-mobilan yang cukup antik. Mulai dari die cast sebesar jempol orang dewasa sampai yang bisa dinaiki oleh anak-anak. Mulai dari mainan besi sampai mainan kayu zaman sebelum kemerdekaan. Lumayan menghibur bagi orang dewasa yang ingin ber nostalgia.

 

Artikel terkait Inilah Museum Menarik Di Yogyakarta Yang Wajib Anda Kunjungi