Menu

Filosofi Kesenian Jathilan di Gunungkidul Yang Mengandung Sejarah

13/04/2016 | Seni Budaya

Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang.  Di Gunungkidul sendiri juga terdapat beberapa grup kesenian Jathilan. Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).

Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan.” Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathilan utamanya ketika para penari telah kerasukan.

Filosofi Kesenian Jathilan di Gunungkidul Yang Mengandung Sejarah

Sejarah Kesenian Jathilan Gunungkidul

Jathilan biasanya dipentaskan ketika seseorang memiliki hajatan, atau bisa juga dipentakan ketika acara bersih dusun atau Rasulan di Gunungkidul. Berikut sejarah Jathilan dari berbagai versi.

Versi Kerajaan Bantarangin :

Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8.

Versi Kerajaan Mataram :

Versi ini menyebutkan bahwa tarian jathilan ini mengisahkan tentang prajurit Mataram yang sedang mengadakan latihan perang (gladhen) dibawah pimpinan Sultan Hamengku Buwono I, guna mengadapi pasukan Belanda.

Versi Pangeran Diponegoro :

Versi ini menyebutkan bahwa tari kuda lumping yang menggunakan properti kuda tiruan terbuat dari bambu berawal dari sebuah bentuk apresiasi serta dukungan rakyat terhadap pasukan berkudanya Pangeran Diponegoro, dimana pasukan berkuda tersebut teramat gigih melawan penjajahan Belanda. Waktu penjajahan itu, kesenian tari jathilan ini sering kali dipentaskan di dusun – dusun terpencil, selain sebagai hiburan ternyata pementasan jathilan ini juga digunakan sebagai media menyatukan rakyat demi melawan penindasan.

Cerita dan Penampilan Jathilan di Gunungkidul

Sesuai perkembangan jaman, sejatinya ada banyak cerita yang dikembangkan dan sering ditampilkan pada pertunjukan seni tari jathilan pun jaran kepang ini.    Jika di atas tadi ada gambaran cerita tentang Diponegoro, maka ada pula cerita tentang Panji Asmarabangun, yaitu putra dari kerajaan Jenggala Manik.

Tatkala yang disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun gerakannya.   Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.”

Artikel terkait Filosofi Kesenian Jathilan di Gunungkidul Yang Mengandung Sejarah

Recent Post

Berbicara soal keberlangsungan hidup setiap…
Menikmati suasana tempat wisata yang…

Archives