lklan-728x90
Menu

Cara Budidaya Bawang Putih Dataran Rendah DIY

01/11/2016 | Pertanian

Bawang putih merupakan tanaman sayuran yang berasal dari Asia Tengah, diantaranya Cina dan Jepang yang beriklim subtropis. Dari sini bawang putih menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan akhirnya ke seluruh dunia. Sejarah bawang putih berkaitan dengan sejarah perjalanan peradaban dunia yang terlkenal. Sebut saja piramida yang berasal dari zaman keemasan Mesir. Disini , bawang putih digunakan sebagai menu utama yang diberikan kepada buruh yang membangun piramida itu. Di Indonesia Bawang putih masuk melalui jalur perdagangan internasional yang sejak berabad-abad lampau meramaikan bandar-bandar di Indonesia. Dimulai dari daerah pesisir lama-kelamaan meluas ke daerah pedalaman.

cara-budidaya-bawang-putih-dataran-rendah-diy

Bawang putih berasal dari Eropa bagian Selatan, walaupun ada yang menyebutkan Amerika Serikat merupakan produsen bawang putih, yaitu di Lousiana dan Texas. Di Indonesia bawang putih dapat tumbuh baik pada dataran tinggi dan dataran rendah, antara lain di Tuwel, Tegal (Jawa Tengah), Bantul dan Gunung Kidul (Yogjakarta). Varietas bawang putih yang banyak di tanam di Indonesia antara lain: lumbu hijau, lumbu kuning, cirebon, tawangmangu, jenis ilocos dari Filipina, dan jenis lokal Thailand. Dari banyak varietas tersebut yang banyak ditanam adalah varietas lumbu hijau dan lumbu kuning. Umbi dari tanaman bawang putih merupakan bahan utama untuk bumbu dasar masakan Indonesia. Bawang mentah penuh dengan senyawa-senyawa sulfur, Termasuk zat kimia yang di sebut alliin yang membuat bawang putih mentah terasa getir atau angur.

Varietas Bawang Putih

Varietas bawang putih dataran rendah memberikan peluang khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri  untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Varietas bawang putih yang cocok dikembangkan di dataran rendah adalah sebagai berikut.

  • Varietas yang pertama adalah jenis Lumbu putih. Daerah yang pertama mengembangkan varietas ini adalah Yogyakarta. Umbinya berwama putih. Umbi memiliki berat sekitar 7 g dengan diameter 3-3,5 cm, jumlah siung per umbi 15-20 buah. Daun berukuran sempit, lebamya kurang dari 1 cm. Posisi daun tegak dan produksi rata-ratanya 4-7 ton/ha.
  • Varietas selanjutnya adalah Jati barang. Varietas ini banyak dikembangkan di daerah Brebes, Jawa Tengah. Umbinya berwarna kekuningan tetapi kulit luamya tetap putih. Umbi agak kecil dengan diameter sekitar 3,5 cm. Sebuah umbi memiliki berat sekitar 10-13 g. Jumlah siung terdiri ari 15-20 buah dan rata-rata produksinya antara 3-3,5 ton/ha.
  • Bagor Varietas. Varietas ini berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Kulit umbinya putih buram berdiameter 3-3,5 cm. Umbinya berwama kuning. Bentuk umbi agak lonjong. Berat sebuah umbi hanya 8-10 g dengan jumlah siung 14-21 per umbi. Dari satu hektar lahan dapat dihasilkan 5-7 ton bawang putih.
  • Bawang putih varietas sanur banyak dikembangkan di Pulau Dewata, Bali. Umbinya berukuran besar, berdiameter 3,5-4 cm. Sebuah umbi memiliki berat 10-13 g. Selubung kulit berwarna putih, umbinya sendiri berwarna kuning. Susunan siung pada umbi tidak teratur dengan jumlah siung per umbi 15-20 buah. Hasil umbi yang dapat dipanen sekitar 4-6 ton/ha.

Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih sampai saat ini adalah varietas bawang putih yang berkembang di indonesia umumnya memiliki potensi hasil yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasil bawang putih di daerah subtropis. Bagitu pula tingkat pengusahaanya terbat s di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl). Dengan demikian dengan adanya jenis-jenis bawang putih yang cocok diusahakan di dataran rendah merupakan peluang baru dalam pembangunan pertanian khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri bagi pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data Susenas, konsumsi per kapita bawang putih penduduk indonesia mencapai 1,13 kg/tahun sehingga kebutuhan bawang putih nasional per tahun mencapai sekitar 250 ribu ton. D.I.Yogyakarta mempunyai varietas bawang putih dataran rendah yaitu Lumbu Putih.

Cara Budidaya Bawang Putih DIY

sebelumnya telah dibahas tentang budidaya nanas. Kali ini akan mengulas tentang budidaya bawang putih. Menanam bawang itu gampang, ujar Mihartono, mantan ketua kelompok tani di Srunggo, Imogiri. Tentu saja kita harus memperhatikan sifat dan kesesuaiannya dengan lahan. Bawang putih varietas Lumbu Putih cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0-300 meter dpl. Dia menghendaki tanah jenis lempung berpasir. Derajat keasaman (pH) tanah yang dibutuhkan antara 6,5 – 7. Suhu yang optimum untuk pertumbuhannya rata-rata 20-26 derajat Celcius, di samping persyaratan itu, bawang putih juga membutuhkan kesejukan. Hujan merupakan penghambat produksi yang cukup besar perannya, karena bisa mengundang jasad pengganggu. Tanaman bawang putih (Allium sativum) hampir identik dengan sayur dataran tinggi. Namun, sekarang tanaman ini banyak ditanam di dataran rendah. Lahan penanamannya adalah sawah yang habis ditanami padi. Hasilnya cukup baik walau tak sebaik produksi di dataran tinggi. Kuncinya adalah pemilihan jenis yang cocok untuk dataran rendah. Berikut ini cara bertanam bawang putih menurut Tukijo H., Mihartono dan Harono Prasojo.

Menurut pendapat mereka bertiga, bawang putih memang merupakan tanaman yang tidak tahan hujan. Jadi waktu tanam yang baik adalah bulan Mei – Juni. Hal ini pula yang membuat Dinas Pertanian DIY mengupayakan bawang putih untuk masuk dalam pola tanam khusus musim kemarau. Dalam satu tahun, di Bantul dan Gunung Kidul hanya dapat ditanam satu kali. Tapi sebetulnya bisa diusahakan penanaman lebih dari satu kali dengan penggunaan kerudung plastik. Kerudung plastik ini dimaksudkan untuk menangkal air hujan agar tidak menimpa tanaman. Tentu saja plastik itu jangan tertutup sepenuhnya. Krudung plastik bisa dipasang memanjang pada bedengan dan pada kiri-kanan kerudung terbuka sehingga aliran udara tetap lancar. Apabila aliran udara lancar, maka dalam kerudung tidak terjadi peningkatan suhu dan kelembapan, yang dikhawatirkan merangsang serangan jamur dan jasad pengganggu lain.

Pemakaian kerudung plastik ini bisa diimbangi dengan peninggian bedengan dan drainase yang baik sehingga tanaman bawang tidak tergenang bila terjadi hujan deras. Dengan cara ini tentu saja ada biaya ekstra untuk membuat kerudung plastik.
Tanah dicangkul 2 kali, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran lebar 1,25 meter dan panjang 5 meter, 10 meter atau sesuai dengan kebutuhan. Jarak antar bedengan 25 – 30 cm, demikian pula tinggi tanah dan bedengan. Selanjutnya tanah dibiarkan. Seminggu kemudian, pupuk kandang dengan dosis 20 ton / ha ditaburkan di atasnya dan dengan menggunakan cangkul pupuk dicampur rata dengan tanah. Selain pupuk kandang sebagai pupuk dasar, dugunakan pula TSP, KCI dan ZA, masing-masing dengan dosis 200 kg, 50 kg dan 50 kg. Pupuk kimia ini diaplikasikan sehari sebelum tanam.

Penanaman Bawang Putih

Sawah yang sudah ditanami padi adalah lahan yang cocok untuk bawang putih dataran rendah. Petani memang sering menyeling penanaman sawahnya. Bila sawah ingin ditanami palawija juga maka pola tanam yang dianjurkan adalah sebagai berikut. Sebelum penanaman, lahan diolah terlebih dahulu. Tanah yang asam dinetralkan sebulan sebelum tanam. Bila pH kurang dari 6, dosis kapurnya sekitar 1-2 ton/ha. Seandainya bekas panen pada sawah masih ada maka perlu dibersihkan. Lantas buat bedeng-bedengan yang lebarnya 80-120 cm dan tingginnya 40 cm. Panjang bedengan bisa disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antar bedengan antara 10-20 cm. Nantinya ini akan berguna sebagai saluran air dan tempat lalu lalang saat melakukan pemeliharaan atau panen.

Apabila lahan yang hendak ditanami bukan bekas sawah, tanah harus dibajak atau dicangkul hingga benar-benar gembur. Bila tak gembur, bisa berakibat fatal pada produksi. Seperti diketahui bawang putih adalah tanaman yang dipanen umbinya. Prinsip budi daya yang diterapkan adalah mengupayakan semaksimal mungkin pertumbuhan umbi tersebut. Tanpa tanah yang gembur umbi akan sulit berkembang. Setelah tanah gembur, dilanjutkan dengan ukuran siung benih yang dipakai. Siung besar membutuhkan jarak tanam renggang sekitar 15 x 10 cm. Untuk pembibitan digunakan jarak tanam 10 x 10 cm. Posisi siung saat ditanam tegak. Kedalamannya 5-7 cm dari permukaan tanah.

Untuk menghasilkan tanaman dengan produksi baik, bibit yang digunakan harus benar-benar baik. Kriteria bibit yang baik antara lain umurnya pada saat dipanen, antara 100-120 hari dan telah mengalami penyimpanan selama 7-9 bulan. Bibit beraroma sedap, mengkilap dan umbinya keras. Sedapat mungkin, bibit bebas penyakit sejak dari induknya dulu. Kebutuhan bibit 3-4 kuaintal per hektar. Bibit yang akan ditanam dipipil menjadi siungan, lalu direndam dalam air tawar 8-10 jam. Perendaman dimaksudkan agar pertumbuhan bibit serentak. Setelah direndam, bibit ditanam dengan jarak tanam 15 x 10 cm. Satu lubang tanam diisi satu siung bibit. Cara menanamnya harus tegak dengan kedalaman sebatas permukaan tanah. Bila penanaman selesai, di atas bibit dilapis tanah tipis dan ditaburi Furadan, Curater atau Dharmafur dengan dosis 30 kg/ha.

Pemeliharaan Tanaman Bawang Putih

Penjarangan dan Penyulaman Bawang yang ditanam kadang-kadang tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau faktor bibit. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam suatu lahan ada tanaman yang tidak tumbuh sama sekali, ada yang tumbuh lalu mati, dan ada yang pertumbuhannya tidak sempurna. Jika keadaan ini dibiarkan, maka produksi yang dikehendaki tidak tercapai. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pertumbuhan yang seragam, seminggu setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap bibit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya tampak tidak sempurna. Biasanya untuk penyualaman dipersiapkan bibit yang ditanam di sekitar tanaman pokok atau disiapkan di tempat khusus. Persiapan bibit cadangan ini dilakukan bersamaan dengan penanaman tanaman pokok.

Penyiangan Pada penanaman bawang putih, penyiangan dan penggemburan dapat dilakukan dua kali atau lebih. Hal ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan selama satu musim tanam. Penyiangan dan penggemburan yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3-2 minggu setelah tanam. Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat umbi mulai terbentuk, penyiangan dan penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan umbi baru.

Pembubunan  Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan pembubunan. Pembubunan terutama dilakukan pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya mengambil tanah dari selokan/ parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi dan parit menjadi lebih dalam sehingga drainase menjadi normal kembali. Pembubunan juga berfungsi memperbaiki struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan tanah tertutup kembali sehingga tanaman berdiri kuat dan ukuran umbi yang dihasilkan dapat lebih besar-besar.

Pemupukan Pemberian pupuk dilakukan dengan 2 tahap, yaitu sebelum tanam atau bersamaan dengan penanaman sebagai pupuk dasar dan sesudah penanaman sebagai pupuk susulan. Unsur hara utama yang diperlukan dalam pemupukan adalah N, P, dan K dalam bentuk N, P2O5, dan K2O. Unsur-unsurhara lainnya dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk kandang. Perkiraan dosis dan waktu aplikasi pemupukan Bawang putih memerlukan sulfur dalam jumlah yang cukup banyak. Unsur ini mempengaruhi rasa dan aroma khas bawang putih. Oleh sebab itu, apabila menggunakan KCl sebagai sumber kalium, maka sebagai sumber nitrogen sebaiknya menggunakan pupuk ZA. Jika sebagai sumber nitrogen digunakan Urea, maka untuk sumber kalium sebaiknya digunakan ZK. Hal ini dilakukan agar kebutuhan sulfur tetap terpenuhi.

Berdasarkan kebutuhan unsur hara di atas, jumlah pupuk yang akan digunakan dapat dihitung berdasarkan jenis dan kandungan unsur haranya. Aplikasi pemupukan dilakukan dengan mebenamkan pupuk di dalam larikan disamping barisan tanaman seperti cara memberikan pupuk dasar. Penggunaan pupuk anorganik ini dapat diimbangi dengan pemberian pupuk organik maupun kompos yang diseseuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pengairan dan Penyiraman, Pemberian air dapat dilakukan dengan menggunakan gembor atau dengan menggenangi saluran air di sekitar bedengan.

Cara yang terakhir dinamakan sistem leb. Penyiraman dengan gembor, untuk bawang yang baru ditanam, diusahakan lubang gembornya kecil agar air yang keluar juga kecil sehingga tidak merusak tanah di sekitar bibit. Jika air yang keluar besar, maka posisi benih dapat berubah, bahkan dapat mengeluarkannya dari dalam tanah. Pada awal penanaman, penyiraman dilakukan setiap hari. Setelah tanaman tumbuh baik, frekuensi pemberian air dijarangkan, menjadi seminggu sekali. Pemberian air dihentikan pada saat tanaman sudah tua atau menjelang panen, kira-kira berumur 3 bulan sesudah tanam atau pada saat daun tanaman sudah mulai menguning.

cara-budidaya-bawang-putih-dataran-rendah-diy

Pemanenan Bawang Putih

Bila ditanam sekitar Mei-Juli maka bulan Agustus-Oktober sudah dapat dipanen. Panen dilakukan saat tanaman berumur 90-120 hari dari saat tanam. Ciri-ciri bawang putih siap panen terlihat pada daunnya yang menguning atau kering serta tangkai batang yang mengeras. Bila ciri-ciri ini terlihat sudah 50% dari total tanaman maka panen dapat dilakukan. Panen dilakukan dengan cara mencabut semua bagian tanaman. Di sentral produksi bawang putih panen biasa dilakukan dengan serombongan tenaga kerja yang terkoordinir. Maksudnya agar panen tak memakan waktu terlalu lama dan hasil per petak atau per hektarnya segera diketahui. Kebanyakan petani mengumpulkan bawnag putih dalam bentuk ikatan-ikatan. Satu ikat biasanya terdiri dari 30 tangkai.

Akar dan daun dibuang dengan menyisakan pangkal daunnya. Selanjutnya tindakan pascapanen dilakukan agar pangkal daun menjadi kering. Untuk ini dilakukan penjemuran selama 15 hari. Sinar matahari terik tidak boleh langsung mengenai umbi bawang putih. Oleh karena itu, lebih baik dijemur di teritisan rumah atau tempat terlindung. Pada malam hari umbi diletakkan di tempat terlindung. Setelah kering umbi diletakkan di para-para bambu atau gudang yang baik. Sebaiknya gudang difumigasi dahulu agar bebas hama. Pestisida Photoxin 55% bisa disemprotkan sebagai fumigan.

Setelah dipanen dilakukan pengumpulan dengan cara mengikat batang semu bawang putih menjadi ikatan-ikatan kecil dan diletakkan di atas anyaman daun kelapa sambil dikeringkan untuk menjaga dari kerusakan dan mutunya tetap baik. Sortasi dilakukan untuk mengelompokkan umbiumbi bawang putih menurut ukuran dan mutunya. Sebelum dilakukan penyortiran, umbi-umbi yang sudah kering dibersihkan. Akar dan daunnnya dipotong hingga hanya tersisa pangkal batang semu sepanjang ± 2 cm.

Dalam jumlah kecil, bawang putih biasanya disimpan dengan cara digantung ikatan-ikatannyadi atas para-para. Setiap ikatan beratnya sekitar 2 kg. Para-paranya dibuat dari kayu atau bambu dan diletakkan diatas dapur. Cara seperti ini sangat menguntungkan karena setiap kali dapur dinyalakan, bawang putih terkena asap. Pengasapan merupakan cara pengawetan yang cukup baik. Dalam jumlah besar, caranya adalah disimpan di dalam gudang. Gudang yang akan digunakan harus mempunyai ventilasi agar bisa terjadi peredaran udara yang baik. Suhu ruangan yang diperlukan antara 25-30oC. Jika suhu ruangan terlalu tinggi, akan terjadi proses pertunasan yang cepat. Kelembaban ruangan yang baik adalah 60-70 prosen. Untuk memudahkan pengangkutan bawang putih dimasukkan ke dalam karung goni atau karung plastik dengan anyaman tertentu.

Artikel terkait Cara Budidaya Bawang Putih Dataran Rendah DIY