lklan-728x90
Menu

3 Wisata Candi Di Jogja Buat Anda Yang Hobi Selfi

Candi Di Jogja – Tempat wisata di Jogja demikian terkenalnya sehingga membuat daerah ini menjadi salah satu tempat tujuan banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Aneka wisata di Jogja sungguh bervariasi, dimulai dari wisata budaya, tempat kuliner, hingga wisata candi Jogja yang terkenal itu. Sudah menjadi rahasia umum, kalau Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta punya banyak candi. Tidak hanya sejarahnya bentuk arsitektur candi-candi tersebut sangat memesona. Keberadaan sebuah candi di Jogja tidak cukup hanya dengan cerita sejarahnya. Keajaiban bentuk sebuah candi di Jogja yang tersusun dari batu-batu alam membuat situs ini sangat menarik. Tak pernah terbayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu membuat bangunan-bangunan cantik ini dengan peralatan seadanya. Padahal bahan dasar pembuatannya menggunakan batu-batu alam yang sangat berat.

3-wisata-candi-di-jogja-buat-anda-yang-hobi-selfi

Objek wisata candi di Jogja adalah salah satu kebanggaan yang juga dimiliki bangsa Indonesia, khususnya di sektor kepariwisataan. Jogja memiliki sejumlah candi yang sarat akan nilai seni dan arsitektur klasik yang mengagumkan. Sebagai sebuah hasil peradaban manusia, candi sangat kental dengan nilai-nilai sejarah dan menceritakan tentang bagaimana masyarakat manusia di tempat itu menjalani kehidupannya pada era dibangunnya candi tersebut. Ada sejumlah tempat wisata candi di Jogja yang patut Anda kunjungi.

Jika Anda pergi mengunjungi salah satu yang termasyhur, Candi Borobudur yang merupakan objek wisata di Magelang, lokasinya cukup dekat dari Jogja. Candi Prambanan adalah salah satu candi yang begitu menawan, tak kalah pula Candi Mendut dan Candi Kalasan. Namun, rasanya tidak mungkin dalam satu hari Anda dapat mengunjungi seluruh wisata candi di Jogja tersebut. Tetapi jika waktu Anda cukup tersedia, maka tak ada ruginya mengunjungi candi di Jogja ini.

Candi Sewu Klaten Jawa Tengah

Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Dari kota Yogyakarta jaraknya sekitar 17 km ke arah Solo. Candi Sewu merupakan gugus candi di Jogja yang letaknya berdekatan dengan Candi Prambanan, yaitu kurang lebih 800 meter di sebelah selatan arca Rara Jongrang. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-8, atas perintah penguasa Kerajaan Mataram pada masa itu, yaitu Rakai Panangkaran (746-784 M) dan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Walaupun rajanya beragama Hindu, Kerajaan Mataram pada masa mendapat pengaruh kuat dari Wangsa Syailendra yang beragama Buddha.

Para ahli menduga bahwa Candi Sewu merupakan pusat kegiatan keagamaan masyarakat beragama Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada isi prasasti batu andesit yang ditemukan di salah satu candi perwara. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dan berangka tahun 792 Saka tersebut dikenal dengan nama Prasasti Manjusrigrta. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang kegiatan penyempurnaan prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha pada tahun 714 Saka (792 Masehi). Nama Manjusri juga disebut dalam Prasasti Kelurak tahun 782 Masehi yang ditemukan di dekat Candi Lumbung.

Candi Sewu terletak berdampingan dengan Candi Prambanan, sehingga saat ini Candi Sewu termasuk dalam kawasan wisata Candi Prambanan. Di lingkungan kawasan wisata tersebut juga terdapat Candi Lumbung dan Candi Bubrah. Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat juga beberapa candi lain, yaitu: Candi Gana, sekitar 300 m di sebelah timur, Candi Kulon sekitar 300 m di sebelah barat, dan Candi Lor sekitar 200 m di sebelah utara. Letak candi Sewu, candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, dengan candi Prambanan, yang merupakan candi Hindu, menunjukan bahwa pada masa itu masyarakat beragama Hindu dan masyarakat beragama Buddha hidup berdampingan secara harmonis.

Sejarah Candi Sewu

Nama Sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti seribu, menunjukkan bahwa candi yang tergabung dalam gugusan Candi Sewu tersebut jumlahnya cukup besar, walaupun sesungguhnya tidak mencapai 1000 buah. Tepatnya, gugusan Candi Sewu terdiri atas 249 buah candi, terdiri atas 1 candi utama, 8 candi pengapit atau candi antara, dan 240 candi perwara. Candi utama terletak di tengah, di ke empat sisinya dikelilingi oleh candi pengapit dan candi perwara dalam susunan yang simetris.

Candi Sewu mempunyai 4 pintu gerbang menuju pelataran luar, yaitu di sisi timur, utara, barat, dan selatan, yang masing-masing dijaga oleh sepasang arca Dwarapala yang saling berhadapan. Dari pelataran luar ke pelataran dalam juga terdapat 4 pintu masuk yang dijaga oleh sepasang arca Dwarapala, serupa dengan yang terdapat di gerbang luar. Arca Dwarapala yang terbuat dari batu utuh tersebut ditempatkan di atas lapik persegi setinggi sekitar 1,2 m dalam posisi satu kaki berlutut, kaki lainnya ditekuk, dan satu tangan memegang gada. Tinggi arca Dwarapala ini mencapai sekitar 2,3 m.

Candi utama atau candi induk terletak di pelataran persegi seluas 40 m2, yang dikelilingi pagar dari susunan batu setinggi 0,85 m. Bangunan candi berbentuk poligon bersudut 20 dengan diameter 29 m. Tinggi bangunan mencapai 30 m dengan 9 atap yang masing-masing mempunyai stupa di puncaknya. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Kaki candi dihiasi pahatan bermotif bunga dalam jambangan. Untuk mencapai permukaan batur yang membentuk selasar, terdapat tangga selebar sekitar 2 m yang dilengkapi dengan pipi tangga. Pangkal pipi tangga dihiasi makara, kepala naga dengan mulut menganga lebar, dengan arca Buddha di dalamnya. Dinding luar pipi tangga dihiasi pahatan berwujud raksasa Kalpawreksa.

Toleransi Candi Sewu

Pengunjung dapat memasuki Candi Sewu dari berbagai penjuru. Sekilas jika dicermati, pintu utama candi terdapat di bagian timur. Karena, di bagian timur tersebut terdapat dua buah arca Dwarapala, yaitu arca penjaga. Candi utama berbentuk poligon dengan tinggi sekitar 30 meter yang sisi-sisinya terdapat stupa. Sempat mengalami kerusakan akibat gempa yang terjadi di tahun 2006, pancang candi kini diperkuat dengan pondasi yang lebih kokoh. Banyak yang meyakini bahwa Candi Sewu dan Candi Prambanan merupakan wilayah yang dahulu digunakan sebagai pusat di berbagai sektor kehidupan. Seperti penyebaran agama Hindu-Buddha, pusat politik dan kehidupan urban. Pendapat tersebut diperkuat oleh posisi Candi Prambanan dan Candi Sewu yang saling berdekatan yang membentang dari Lereng Gunung Merapi hingga ke perbatasan Klaten.

Berwisata ke Candi Sewu bersama keluarga merupakan salah satu pilihan yang tepat. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan, Komplek Candi Sewu juga tidak panas karena dikelilingi pohoh-pohon yang rindang. Mengunjungi Candi Sewu berarti juga mempelajari makna toleransi yang sudah ada di Indonesia sejak zaman Jawa kuno. Hal tersebut ditunjukkan oleh posisi candi yang saling berdekatan walaupun berbeda nafas, Prambanan bernafaskan Hindu sementara Candi Sewu bernafaskan Buddha.

3-wisata-candi-di-jogja-buat-anda-yang-hobi-selfi

Candi Kalasan Sleman Yogyakarta

Candi Kalasan terletak di Desa Kalibening, Tirtamani, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya sekitar 16 km ke arah timur dari kota Yogyakarta. Dalam Prasasti Kalasan dikatakan bahwa candi ini disebut juga Candi Kalibening, sesuai dengan nama desa tempat candi tersebut berada. Tidak jauh dari Candi Kalasan terdapat sebuah candi yang bernama Candi Sari. Kedua candi tersebut memiliki kemiripan dalam keindahan bangunan serta kehalusan pahatannya. Ciri khas lain yang hanya ditemui pada kedua candi itu ialah digunakannya vajralepa (bajralepa) untuk melapisi ornamen-ornamen dan relief pada dinding luarnya.

Umumnya sebuah candi dibangun oleh raja atau penguasa kerajaan pada masanya untuk berbagai kepentingan, misalnya untuk tempat ibadah, tempat tinggal bagi biarawan, pusat kerajaan atau tempat dilangsungkannya kegiatan belajar-mengajar agama. Keterangan mengenai Candi Kalasan dimuat dalam Prasasti Kalasan yang ditulis pada tahun Saka 700 (778 M). Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanskerta menggunakan huruf pranagari. Dalam Prasasti Kalasan diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha.

Sejarah Candi Mendut

Menurut prasasti Raja Balitung (907 M), yang dimaksud dengan Tejapurnama Panangkarana adalah Rakai Panangkaran, putra Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu. Rakai Panangkaran kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram Hindu yang kedua. Selama kurun waktu 750-850 M kawasan utara Jawa Tengah dikuasai oleh raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan memuja Syiwa. Hal itu terlihat dari karakter candi-candi yang dibangun di daerah tersebut. Selama kurun waktu yang sama Wangsa Syailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana yang sudah condong ke aliran Tantryana berkuasa di bagian selatan Jawa Tengah.

Pembagian kekuasaan tersebut berpengaruh kepada karakter candi-candi yang dibangun di wilayah masing-masing pada masa itu. Kedua Wangsa tersebut akhirnya dipersatukan melalui pernikahan Rakai Pikatan Pikatan (838 – 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara, Rakai Panangkaran menganugerahkan Desa Kalasan dan untuk membangun biara yang diminta para pendeta Buddha. Diperkirakan bahwa candi yang dibangun untuk memuja Dewi Tara adalah Candi Kalasan, karena di dalam candi ini semula terdapat patung Dewi Tara, walaupun patung itu sudah tidak berada di tempatnya.

Sementara itu, yang dimaksud dengan biara tempat para pendeta Buddha, menurut dugaan, adalah Candi Sari yang memang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan. Berdasarkan tahun penulisan Prasasti Kalasan itulah diperkirakan bahwa tahun 778 Masehi merupakan tahun didirikannya Candi Kalasan. Menurut pendapat beberapa ahli purbakala, Candi kalasan ini telah mengalami tiga kali pemugaran. Sebagai bukti, terlihat adanya 4 sudut kaki candi dengan bagian yang menonjol. Selain itu yang terdapat torehan yang dibuat untuk keperluan pemugaran pada tahun 1927 sampai dengan 1929 oleh Van Romondt, seorang arkeolog Belanda. Sampai saat ini Candi Kalasan masih digunakan sebagai tempat pemujaan bagi penganut ajaran Buddha, terutama aliran Buddha Tantrayana dan pemuja Dewi Tara.

Candi Mendut Wisata Jogja

Candi Mendut  didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra yang bercorak penganut Buddha pada ketinggian tempat 3,70 m dpl. Seperti yang disebutkan dalam prasasti Karangtengah yang bertanggal 26 Mei 824 Masehi, diceritakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci wenuwana yang artinya hutan bambu. Selanjutnya arkeolog dari Belanda yang bernama J.G de Casparis mendefinisikan bangunan suci yang dimaksud adalah Candi Mendut. Candi ini berbentuk persegi empat dilengkapi dengan atap yang bertingkat dihiasi oleh stupa-stupa kecil. Candi ini dibangun lebih dahulu dari pada Candi Pawon dan Candi Borobudur yang terletak dalam satu garis lurus. Candi ini dibangun menghadap ke arah barat berlainan dengan candi Borobudur yang dibangun menghadap ke arah matahari terbit.

Candi mendut lebih tua dari candi Borobudur. Candi di Jogja ini dibangun lebih dahulu dari candi Borobudur. Raja yang membangunnya adalah Raja Indra dari Dinasti Syailendra pada tahun 824 M. Belum diketahui pasti mengenai fungsi candi ini dimasa lalu. Namun yang menarik adalah candi mendut ini berada satu garis lurus dengan candi pawon dan candi Borobudur. Beberapa orang berspekulasi bahwa pada zaman dahulu, candi ini mungkin merupakan semacam gerbang masuk sebelum ke candi Borobudur, jadi, sebelum orang ke candi Borobudur, mereka akan singgah di candi mendut ini. Sampai sekarang pun saat umat budha merayakan waisak, mereka akan mengarak air berkah dan api suci dari candi mendut ini ke candi Borobudur. Sebagai tambahan banyak orang bertanya apakah ada hubungan antara candi mendut ini dengan cerita roro mendut. jawabannya tidak. kebetulan saja keduanya menyandang nama mendut.

Saat memasuki pelataran dan kaki candi, anda dapat melihat beberapa relief yang menceritakan tentang kura-kura, burung, kera dan burung manyar, brahmana dan kepiting. Relief ini sepintas terlihat seperti dongeng yang ditujukan kepada anak-anak, tetapi sebenarnya cerita tersebut menceritakan kisah jataka yang memberikan pesan moral kepada semua orang yang datang berkunjung ke Candi Mendut ini. Di bagian badan candi, anda akan mendapatkan 8 relief Bodhisattva yang berukuran lebih besar dibandingkan dengan relief yang ada di candi Borobudur. Aroma hio tercium bercampur dengan semerbak wangi bunga akan mengiringi anda saat melangkahkan kaki memasuki bilik candi.

Selanjutnya akan tampak didepan mata arca setinggi 3 meter berjumlah 4 disinari cahaya kekuningan. Tiga arca berukuiran besar yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini bernama arca Dyani Buddha Cakyamuni atau Vairocana, arca Avalokitesvara dan arca Bodhisatva Vajrapani. Arca Dyani Buddha Cakyamuni yang terletak di tengah, sedang duduk dengan kaki menyiku kebawah dengan posisi tangan memutar roda dharna. Arca –arca tersebut dipahat dari bahan batu hitam utuh dengan sangat cermat sehingga dihasilkan maha karya yang luaar biasa. Terdapat rangakaian bunga segar, hiolo dan hio terletak di depan arca-arca tersebut.

Setelah anda merasa cukup melihat purwa rupa arca-arca tersebut, tibalah saatnya anda meninggalkan pintu gerbang candi Mendut ini dengan melewati deretan kios suvenir. Selanjutnya anda juga akan melihat Buddist Monastery yang merupakan tempat yang hening, terbuka dan terbuk untuk umum. Sejumlah stupa dan bunga teratai di kolam menghiasi jalan menuju Buddist Monastery. Mulai pukul 19.20 Wib setiap malam, ditempai ini diadakan ritual chanting atau meditasi dengan cari mendengarkan alunan musik dan nyanyian. Siapapun boleh mengikuti riitual chanting tersebut dan tidak harus beragama Buddha.

Satu hal yang akan anda sukai saat datang ke candi mendut ini adalah keberadaan pohon Bodhi yang menjulang tinggi di sekitar candi. Akar-akarnya menjulur dari batangnya yang tinggi. Ini merupakan satu kesempatan menarik untuk berfoto ala tarzan. Berada di area candi mendut ini akan memberikan rasa nyaman yang tersendiri. Mungkin karena keberadaan pohon-pohon besar di area ini yang membuat suasana dia area candi terasa sejuk. Di dekat candi mendut ini juga terdapat sebuah vihara budha. Di sana hidup beberapa orang biksu, wisatawan bebas masuk ke area vihara ini, namun harus menjaga kesopanan. Di dalam area vihara ini suasana damai juga terasa.

Ada kolam ikan dengan bunga teratai yang menyambut begitu anda masuk ke halaman vihara. Juga banyak patung di area taman yang bisa anda gunakan untuk berfoto. Bila beruntung anda bisa bertemu dengan biksu yang sebenarnya, jadi tidak hanya melihat dari film kungfu china saja. Berwisata di candi mendut ini memberi kesan yang berbeda dengan candi lain. Candi prambanan dan Borobudur memberi kesan kemegahan karena bangunan candi yang tinggi dan besar, namun di candi mendut yang memiliki bangunan lebih kecil ini, suasana yang lebih santai terasa. Di area parkiran yang berada di bawah dua pohon rindang, juga terdapat banyak penjual makanan. Sungguh nimat rasanya menikmati makan di bawah pohon rindang di candi mendut ini.

 

 

 

Artikel terkait 3 Wisata Candi Di Jogja Buat Anda Yang Hobi Selfi